Hipmi Bali Dorong UMKM Naik Kelas Berdaya Saing

0
42
Hipmi Bali
Suasana seminar nasional Hipmi BPD Bali di Tuban. (ist)

balibercerita.com –
Di balik pesatnya pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bali, tersimpan persoalan klasik yang kerap luput dari sorotan. Banyak pelaku usaha terjebak bertahun-tahun di level yang sama: menjual produk serupa, menyasar pasar yang sama, hingga akhirnya saling berhadapan dalam persaingan yang melelahkan. Tanpa akselerasi dan peningkatan kelas, UMKM justru berisiko saling “memangsa” satu sama lain di pasar yang semakin sempit.

Kegelisahan inilah yang melatarbelakangi digelarnya Seminar Nasional Transformasi UMKM Menuju Skala Korporasi oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) BPD Bali, Sabtu (7/2) malam, di Tuban. Menghadirkan mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Salahuddin Uno, seminar ini diposisikan sebagai ruang refleksi sekaligus peta jalan bagi UMKM Bali untuk keluar dari “kolam yang sama” dan berani melangkah ke level berikutnya.

Ketua panitia, Gusti Putu Bayu Susila mengatakan, seminar yang diikuti sekitar 200 peserta tersebut tidak sekadar membahas strategi menjual produk. Fokus utama diarahkan pada bagaimana membangun bisnis yang sehat, memiliki tata kelola yang baik, serta siap bertumbuh secara berkelanjutan. “UMKM jangan hanya kuat di penjualan, tetapi juga harus benar secara bisnis. Kami ingin peserta pulang dengan insight baru, relasi yang lebih luas, dan semangat kolaborasi,” ujarnya.

Baca Juga:   Lonjakan Harga Cabai Sumbang Inflasi di Kota Singaraja

Upaya mendorong transformasi UMKM juga diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan JNE dan Jamkrida Bali. Kerja sama ini dimaknai sebagai langkah konkret dalam membangun ekosistem pendukung, mulai dari penguatan layanan logistik hingga perluasan akses pembiayaan bagi UMKM yang belum bankable.

Ketua Umum BPD Hipmi Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih menilai selama ini perhatian lebih banyak tercurah pada penciptaan UMKM baru. Padahal, banyak UMKM lama yang telah stabil justru membutuhkan dorongan serius agar mampu naik kelas. “Kalau UMKM terus ditambah tanpa dinaikkan levelnya, mereka akan terus bertarung di pasar yang sama. Ini yang ingin kami ubah. UMKM yang sudah established harus didorong menjadi perusahaan besar,” tegasnya.

Atas dasar itu, Hipmi Bali menghadirkan Sandiaga Uno yang dikenal memiliki pengalaman panjang sebagai pengusaha dan investor melalui Saratoga. Kehadirannya diharapkan mampu memberikan perspektif strategis, khususnya bagi UMKM menengah yang ingin melakukan scale up.

“Nah, Tum Sandi sebagai mantan Ketua Umum Hipmi Pusat dan juga pemilik Saratoga bisa memberikan insight strategis bagi pengusaha Bali yang sudah mapan agar berani naik kelas,” tambahnya.

Baca Juga:   Penanganan Keretakan Tebing Pura Uluwatu Dilaksanakan Tahun 2024

Talkshow bersama Sandiaga menjadi momentum penting bagi pengusaha Bali yang telah lama bertahan di sektor UMKM. Dari diskusi tersebut mengemuka pesan kuat bahwa keberhasilan UMKM tidak cukup diukur dari sekadar bertahan hidup, tetapi dari keberanian untuk bertumbuh, berkolaborasi, dan menembus pasar yang lebih luas. Dengan ekosistem yang tepat dan akselerasi yang konsisten, UMKM Bali diyakini tidak hanya mampu bertahan di kolam yang sama, tetapi juga berenang menuju panggung usaha yang lebih besar dan berdaya saing.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali, Tri Arya Dhyana Kubontubuh mengaku sangat menantikan kegiatan tersebut karena dinilai mampu mendorong peningkatan kelas UMKM di Bali. Ia menegaskan bahwa peran UMKM, baik secara nasional maupun daerah, sangat strategis dalam menopang perekonomian.

“UMKM memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Bali yang saat ini mencapai sekitar 5,8 persen, di mana 60–61 persen di antaranya disumbang oleh sektor UMKM. Selain itu, UMKM juga berperan signifikan terhadap PDRB daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyebut sektor UMKM merupakan penyerap tenaga kerja terbesar. “Sekitar 87 persen tenaga kerja diserap oleh UMKM. Bahkan, UMKM, khususnya usaha mikro yang telah terbukti menjadi penyangga krisis karena masih mampu bertahan dalam berbagai situasi. Ini patut kita apresiasi dan pertahankan,” kata Tri Arya.

Baca Juga:   Jalan Tol Bali Mandara akan Diperbaiki, Biar Makin Nyaman dan Aman untuk Semua

Saat ini, jumlah UMKM di Bali tercatat sekitar 448.434 unit, meski angka tersebut dinilai belum sepenuhnya valid. Kementerian Koperasi dan UMKM saat ini juga sedang fokus pada penataan data UMKM agar ke depan lebih akurat dan terintegrasi.

Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas UMKM secara menyeluruh, mulai dari tata kelola usaha, daya saing, permodalan, sumber daya manusia, hingga kualitas produk. Harapannya ke depan UMKM memiliki tata kelola yang jelas, tumbuh secara berkelanjutan, dan membentuk ekosistem usaha yang berdaya saing.

Penguatan UMKM dinilai tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Hal ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Peran Hipmi sangat strategis dalam menggerakkan UMKM. Ia pun berharap kolaborasi yang terbangun tidak bersifat sesaat. “Kolaborasi ini jangan berhenti di sini saja, tetapi harus berkelanjutan agar UMKM Bali benar-benar naik kelas,” katanya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini