balibercerita.com –
Di tengah riuh tepuk tangan penonton yang memenuhi kawasan ITDC Nusa Dua, ratusan seniman dari berbagai desa adat tampil menawan dalam Pawai Parade Budaya The Nusa Dua Festival (TNDF) 2025. Namun di balik kemegahan itu, ada sosok yang bekerja senyap merajut harmoni antartradisi yaitu Dr. I Wayan Deddy Sumantra, S.Sn., M.Si., Ketua Listibiya Kecamatan Kuta Selatan.
Bagi Deddy, festival ini bukan sekadar panggung hiburan, tetapi momentum kebangkitan dan penataan kembali mutu berkesenian Bali. “Ini bukan hanya tentang tampil di depan wisatawan, tetapi tentang bagaimana kita menegaskan kembali identitas budaya kita. Kuta Selatan bukan penonton pariwisata dunia, kita adalah jiwanya,” ujarnya.
Sebagai nakhoda lembaga pelestari budaya di wilayah pariwisata internasional, Deddy memimpin kolaborasi besar antara tiga desa adat penyangga kawasan ITDC Nusa Dua, Desa Adat Bualu, Peminge, dan Kampial. Lebih dari 500 seniman lokal terlibat, mulai dari sekaa tari, sekaa tabuh, sabha yowana, hingga sekaa teruna.
Hasilnya adalah parade budaya yang tidak hanya menampilkan keanggunan tradisi, tetapi juga inovasi kreatif yang berpadu dengan nuansa modern. Kolaborasi ini bahkan dirancang beriringan dengan hotel-hotel dan tenant di kawasan ITDC, sejalan dengan tema festival Beauty Harmony. “Sinergi antara budaya dan pariwisata seperti inilah standar masa depan Bali,” kata Deddy.
Ia menilai langkah ITDC Nusa Dua yang memberikan ruang luas bagi seniman lokal merupakan langkah strategis menuju pariwisata berbudaya yang berakar pada kearifan lokal. Ia menekankan bahwa kesuksesan parade budaya tahun ini merupakan hasil kerja kolektif. “Kami berterima kasih kepada para Jro Bendesa Adat dari tiga desa penyangga kawasan, Manggala Adat dan Dinas, pihak hotel dan tenant, serta seluruh masyarakat adat dan pemuda yang ikut bergotong royong,” tuturnya.
Sebagai akademisi sekaligus pegiat budaya, Deddy menaruh harapan besar agar festival semacam ini tidak berhenti di satu momentum. Ia ingin TNDF menjadi ruang berkelanjutan untuk pemberdayaan potensi lokal, di mana seniman, desa adat, dan dunia pariwisata bisa berjalan beriringan. “Budaya bukan sekadar tontonan. Ia adalah kekuatan identitas yang harus dijaga lewat kualitas dan keberlanjutan,” ucap dosen salah satu perguruan tinggi seni di Bali ini dengan nada penuh keyakinan.
Dengan visi dan kepemimpinan kulturalnya, Dr. I Wayan Deddy Sumantra tak hanya memimpin Listibiya Kuta Selatan sebagai lembaga pelestari, tetapi juga menjadikannya arsitek harmoni budaya Bali di panggung dunia, menghubungkan tradisi dan modernitas dalam satu tarikan napas yang sama. (BC5)
















