Sekam Padi Disulap Jadi Material Modern, Riset Undiksha Bidik Kebutuhan Industri Masa Depan

0
3
Undiksha
Undiksha mengembangkan teknologi material melalui inovasi nanokomposit silika-karbon. (ist)

balibercerita.com –
Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menunjukkan kiprahnya dalam pengembangan teknologi material melalui inovasi nanokomposit silika-karbon. Material berbasis sekam padi ini dikembangkan sebagai alternatif pengganti kayu alam sekaligus mendukung terciptanya industri yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pengembangan inovasi tersebut dilakukan oleh Prof. Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa bersama tim peneliti Undiksha. Kehadiran material ini dinilai memiliki prospek ekonomi yang besar sekaligus menjadi solusi untuk menekan pemanfaatan kayu alam secara berlebihan yang berdampak pada kelestarian hutan tropis. Riset nanokomposit silika-karbon memperoleh dukungan pendanaan melalui Program Hilirisasi Strategis Prioritas Skema Dorongan Teknologi dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan (DHK), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026.

Baca Juga:   Nilai Rapor Pendidikan Tabanan 2026 Naik, Duduki Peringkat Kedua di Bali

Menurut Prof. Karyasa, material tersebut memiliki peluang pemanfaatan yang luas di berbagai sektor industri. Selain dapat digunakan sebagai bahan utama kayu sintetis berkualitas tinggi, nanokomposit silika-karbon juga berpotensi dimanfaatkan untuk produksi bio-silika dan bubuk silikon-karbida.

Pemanfaatannya tidak berhenti di situ. Material ini juga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai elektroda pengganti grafit, bahan mekanik pengganti pelat baja maupun plat karbon, hingga mendukung kebutuhan teknologi di bidang elektronik dan optik.

“Nanokomposit silika-karbon memiliki karakteristik unggul yang membuatnya sangat potensial untuk berbagai aplikasi industri. Material ini kuat, tahan lama, dan memiliki stabilitas performa yang tinggi,” ungkapnya.

Secara teknis, material tersebut memiliki sejumlah kelebihan, diantaranya tahan terhadap kelembaban, suhu ekstrem, dan proses degradasi material. Selain itu, nanokomposit silika-karbon tidak mudah lapuk maupun pecah, tahan serangan rayap, memiliki masa simpan panjang, serta mampu menjaga kualitas performanya dalam jangka waktu lama.

Baca Juga:   116 Tahun Berdiri, SD Negeri 1 Kawan Jadi Saksi Sejarah Pendidikan di Bali

Sebagai upaya mempercepat pemanfaatan hasil riset, Undiksha juga mendorong hilirisasi melalui berbagai strategi kolaboratif yang menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan industri. Salah satu langkah yang ditempuh yakni pelaksanaan focus group discussion (FGD) business matching pada Sabtu (13/6), dengan melibatkan Pemerintah Kabupaten Buleleng, pelaku usaha, dan sektor industri.

Forum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang diskusi untuk menghimpun berbagai masukan dan rekomendasi terkait pengembangan produk maupun strategi bisnis nanokomposit silika-karbon. Melalui kegiatan itu, tim peneliti mendapatkan perspektif baru terkait peningkatan mutu produk, peluang pasar, strategi komersialisasi, hingga pengembangan model bisnis berkelanjutan agar inovasi tersebut semakin siap diterapkan di sektor industri.

Baca Juga:   Rayakan Dies Natalis ke-9, PIB College Luncurkan Prodi Creative Event Business untuk Jawab Tantangan Global

Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undiksha, Prof. Dr. Gde Wawan Sudatha menegaskan bahwa hilirisasi riset menjadi salah satu prioritas utama universitas guna memastikan hasil penelitian dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Hasil penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah. Melalui program hilirisasi, kami memastikan inovasi dari kampus dapat diterapkan secara nyata, memberikan nilai tambah, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah serta kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Dengan dukungan pendanaan nasional dan sinergi lintas sektor, Undiksha optimistis nanokomposit silika-karbon mampu berkembang menjadi salah satu produk material unggulan Indonesia yang memiliki daya saing tinggi sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis riset dan teknologi. (BC13)