Ini Temuan Hasil Riset Dampak Pandemi dan Pascapandemi Bagi Pendidikan Anak Usia Dini

0
250
Pendidikan
Sofia Hartati (kanan) mendampingi Wagub Bali Cok Ace. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –  

Pandemi Covid-19 yang terjadi hampir 3 tahun berpengaruh terhadap kondisi perkembangan pendidikan anak usia dini (PAUD). Hal itu dikarenakan banyak anak-anak yang mengalami putus sekolah, akibat dampak melakukan pembelajaran online. Tidak semua orang tua dapat menyekolahkan anaknya via daring, baik karena faktor finansial maupun kesibukan lainnya. Kondisi itu kemudian berdampak pada banyaknya sekolah usia dini mengalami kolaps.

Seorang akademisi dan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Pembelajaran Sosial Anak Usia Dini di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Sofia Hartati, M.Si., mengungkapkan, tidak sedikit anak usia dini yang mengalami learning lost selama pandemi 3 tahun kemarin. Mereka terpaksa belajar di rumah, bahkan banyak orang tua yang terpaksa memutuskan pendidikan anaknya karena faktor ekonomi. Seperti terlalu mahal membeli pulsa, penggunaan selfphone atau device lainnya yang mereka tidak mampu beli. Khusus di pedesaan, terkadang sinyal internet juga menjadi masalah tersendiri. 

Baca Juga:   KKN PPM Mahasiswa PNB di Desa Guwang, Usung Tema Sinergitas Menuju Digitalisasi Desa Berbasis Green Tourism

Menariknya, pascapandemi, justru terjadi penurunan angka partisipasi PAUD di Indonesia. Banyak anak yang tidak kembali ke sekolah yang dipicu keterlenaan bermain di rumah maupun alasan lainnya. Kondisi itu banyak dikeluhkan oleh lembaga PAUD maupun TK, karena memicu beberapa lembaga PAUD yang non formal kemudian banyak tutup. 

“Semoga setelah pandemi usai anak-anak mulai bergairah dan bersemangat untuk datang kembali ke taman bermain, lembaga PAUD, taman kanak kanak, untuk belajar bersama para guru dan teman temannya,” harapnya dalam acara Konferensi Pasifik Pendidikan Anak Usia Dini Asosiasi Riset (Conference Pacific of Early Childhood Education Research Association) belum lama ini di Kuta.

Pandemi yang terjadi 3 tahun kemarin menjadi pembelajaran dalam upaya membangun ketahanan anak-anak didalam menghadapi situasi dan kondisi. Sebab pendidikan anak usia dini merupakan suatu fundamen keberlangsungan seorang anak terhadap kemampuan intelektual, emosi, dan fisik. Jika hal itu terhenti atau tidak melakukan pembelajaran dalam arti bermain dalam setting lingkungan, maka anak akan kehilangan kesempatan untuk berkembang secara optimal.

Baca Juga:   Tersangka Kasus Narkoba Menikah di Rutan Polresta Denpasar 

Kemampuan intelektual dari anak yang tidak terfasilitasi sejak dini, secara otomatis membuat kemampuan intelektual dan emosi, sosial agak terganggu. Sebab anak harus sejak dini dilakukan stimulasi dan diberikan kesempatan untuk bermain dengan sangat terencana. “Pendidikan merupakan sebuah usaha yang terencana. Mau seperti apa anak kita kedepan, disanalah peran pendidikan anak usia dini yang harus diperjuangkan,” ucapnya.

Berkaca dari hal itu, kedepan perlu suatu skema dalam mempersiapkan pendidikan anak usia dini agar mendapatkan pendidikan yang layak dan tidak sampai terjadi putus pendidikan. Sebab masa depan bangsa Indonesia berada pada generasi selanjutnya, sehingga perlu disiapkan sejak dini. Khususnya terkait dampak-dampak yang terlihat dari kondisi pandemik terhadap ketahanan anak-anak.

Baca Juga:   Bertambah, Penerbangan Rute Denpasar-Balikpapan 

Untuk itu organisasi para peneliti pendidikan anak usia dini di Asia Pasifik terus melakukan penelitian terkait dampaknya dari ketidakhadiran anak-anak dalam sebuah pendidikan usia dini.  Berbagai riset yang telah disiapkan dikolaborasikan antarnegara, untuk mengetahui bagaimana dampak anak-anak di berbagai negara setelah menghadapi pandemi 3 tahun belakangan ini.

Ia berharap, benang merah yang ditemukan para periset dari berbagai negara dapat menjadi suatu masukan bagi pemerintah. Sehingga pemerintah setiap negara mengetahui formulasi apa yang seyogyanya dilakukan saat pandemi maupun setelah pandemi bagi pendidikan anak usia dini. Upaya membangun daya tahan anak-anak terhadap bencana, tekanan perlu dilakukan, sehingga kemampuan secara intelektual anak dapat terawat dengan baik dan tumbuh dengan baik. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini