Bupati Giri Prasta Ungkap Asal Usul Namanya

0
21
Giri Prasta
upati Giri Prasta saat menghadiri upacara padiksan di Griya Simpangan Manuaba, Sandakan, Sulangai, Petang, Sabtu (18/11). (ist)

Mangupura, balibercerita.com –

Upacara padiksan Ida Bagus Rai Swaarnawa dan Ida Ayu Ketut Wedariyanti digelar di Griya Simpangan Manuaba, Sandakan, Sulangai, Petang, Sabtu (18/11) malam. Upacara tersebut dihadiri langsung Bupati Badung Nyoman Giri Prasta.

Pada press release Bagian Prokompim Setda Badung disebutkan, sebagai wujud dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan upacara dwijati tersebut, Bupati Giri Prasta menghaturkan punia Pemkab Badung sebesar Rp100 juta. Ia juga menghaturkan punia pribadi sebesar Rp25 juta. Punia diterima ketua panitia upacara, I.B. Ketut Purba Negara.

Menariknya, pada kesempatan itu, Bupati Giri Prasta menyatakan bahwa ia memiliki kedekatan historis dengan pangelingsir Griya Simpangan Manuaba. Bahkan, ia juga mengungkap asal usul namanya.

Baca Juga:   Ratusan Pejabat Pengawas Pemprov Bali Dilantik Jadi Pejabat Fungsional Ahli Muda

“Keluarga saya, mulai dari almarhum bapak-ibu saya, memiliki kedekatan historis yang sangat erat dengan pangelingsir yang ada di Griya Simpangan Manuaba. Nama saya Giri Prasta juga merupakan pemberian dari almarhum Ida Pedanda yang ada di Griya Simpangan Manuaba,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menyampaikan, sulinggih memegang peranan penting dalam peningkatan sradha dan bhakti umat Hindu, yaitu sebagai pemimpin pembimbing dan pendidik umat sesuai dengan dharmanya. “Tugas sulinggih adalah ngeloka palasraya yaitu memberikan pengayoman, menjadi panutan, memberikan bimbingan dan mendidik umat agar senantiasa berada dalam ajaran dharma,” ungkapnya.

Bupati Giri prasta juga mengingatkan calon sulinggih agar dalam kesehariannya selalu memegang teguh nilai-nilai Catur Bandana Dharma, yakni Amari Aran yaini seorang sulinggih tidak lagi menggunakan nama kelahiran baik secara adat maupun secara kewarganegaraan. Namanya berganti sesuai dengan abhiseka yang diberikan oleh nabe atau guru spiritual.

Baca Juga:   Di Denpasar, Pesta Rakyat Simpedes Sedot Puluhan Ribu Pengunjung 

Amari Sesana yaitu perubahan perilaku, karena seorang sulinggih tidak lagi berlaku seperti umat pada umumnya, termasuk dalam urusan berbusana. Amari Wesa yakni seorang sulinggih memiliki standar penataan rambut. Penataan rambut sendiri dibedakan sesuai dengan aliran yang diambil oleh sulinggih tersebut yang dibedakan menjadi tiga aliran yakni Kasogatan, Kabodan, dan Kasiwan. Amulahaken Guru Susrusa yakni seorang sulinggih harus taat dan bakti kepada nabe yang dalam kehidupan seorang sulinggih juga merupakan Siwa Sekala.

Baca Juga:   Puluhan Kendaraan Tujuh Tahun Parkir di Bandara Ngurah Rai, Biayanya Tembus Ratusan Juta

Sementara itu, ketua panitia upacara madiksa I.B. Ketut Purba Negara mengatakan, upacara dwijati di Griya Simpangan Manuaba, Sandakan Sulangai, Petang, diawali dengan acara diksa pariksa pada 6 November. Puncak upacara padiksan berlangsung pada 18 November 2023.

“Pada kesempatan ini saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak Bupati Badung atas perhatian nyata yang diberikan kepada pelaksanaan upacara dwijati. Kami merasakan langsung bagaimana dukungan pemerintah dan Bapak Bupati Badung untuk mensukseskan pelaksanaan upacara dwijati yang kami laksanakan di Griya Simpangan Manuaba Sandakan Sulangai, Petang,” katanya. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini