Banjir Bali Jadi Alarm Krisis Ekologi

0
223
Banjir Bali
Menteri Hanif bersama Gubernur Koster. (ist)

balibercerita.com –
Banjir besar yang melanda Bali pada 10 September lalu menjadi alarm keras tentang rapuhnya daya dukung lingkungan di Pulau Dewata. Data terbaru menunjukkan, kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung yang menjadi salah satu penyangga utama Bali kini kritis, dengan tutupan hutan hanya tersisa 1.500 hektare atau sekitar 3 persen dari total 49.500 hektare. Padahal, secara ekologis minimal 30 persen tutupan hutan dibutuhkan agar ekosistem tetap berfungsi optimal.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan kondisi ini harus segera dijawab dengan langkah rehabilitasi besar-besaran. “Dari 49.500 hektare DAS Ayung, hanya 1.500 hektare atau 3 persen yang masih memiliki tutupan pohon. Padahal secara ekologis dibutuhkan minimal 30 persen,” ujarnya.

Baca Juga:   Imigrasi di Bandara Ngurah Rai Siap Sambut Peningkatan Kunjungan Wisman

Banjir yang dipicu curah hujan ekstrem pada 9 September dengan intensitas 245,75 milimeter dalam sehari, setara 121 juta meter kubik air di DAS Ayung telah menelan 17 korban jiwa, dengan lima orang lainnya masih hilang. Selain merusak pemukiman dan infrastruktur, aliran air semakin parah akibat timbunan sampah yang menutup jalur sungai.

Pemerintah pusat bersama Pemprov Bali menekankan, pengawasan ketat terhadap konversi lahan akan diperkuat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Menteri Hanif menegaskan, “Kita mengharapkan tidak ada lagi konversi-konversi lahan untuk kegiatan terbangun seperti pembangunan vila atau cottage yang akan mengganggu fungsi resapan air,” jelasnya.

Baca Juga:   Proyek MRT di Bali Diharapkan Segera Terealisasi

Selain itu, masalah sampah juga mendapat sorotan. Menurut Hanif, pengelolaan sampah tidak boleh lagi sekadar dipindahkan, tetapi harus ditangani di sumbernya agar tidak memperparah bencana.

Langkah ke depan meliputi rehabilitasi kawasan hulu DAS, evaluasi tata ruang, hingga penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. “Momentum ini harus menjadi pengingat bagaimana kita menjaga alam Bali agar tetap lestari dan tangguh menghadapi bencana,” pungkas Hanif.

Baca Juga:   Jumbara V PMR PMI Provinsi Bali Resmi Dibuka

Krisis tutupan hutan di DAS Ayung sekaligus menjadi cermin betapa pentingnya menjaga daya dukung lingkungan Bali. Tanpa pemulihan ekologi yang serius, risiko bencana serupa dikhawatirkan akan terus menghantui di masa depan.

Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan pentingnya investigasi menyeluruh dari hulu hingga hilir untuk mengungkap penyebab banjir berulang. “Kami akan melakukan penelusuran dari Tukad Badung, dari hulu sampai hilir, apakah terjadi penggundulan hutan yang mengurangi serapan air sehingga saat hujan lebat potensi banjirnya sangat besar,” jelasnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini