Hapus Stigma Negatif Epilepsi, SMC RS Telogorejo Gelar Seminar “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja”

0
138
Epilepsi
Suasana Seminar “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja" yang digelar SMC RS Telogorejo. (ist)

balibercerita.com –
Stigma lama tentang epilepsi sebagai penyakit “kutukan” atau “kerasukan” masih membayangi sebagian masyarakat. Kondisi ini masih menjadi tantangan besar di tengah masyarakat, tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup anak serta kondisi psikologis keluarga.

Menjawab persoalan tersebut, Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo menggelar seminar edukasi bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja” di Kuta, Badung, Sabtu (11/4). Hadir sebagai pembicara, Prof. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D, Sp.BS, spesialis bedah saraf, serta Dr. dr. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sp.A, Sp.Neuro (K), spesialis anak konsultan neurologi, yang membagikan wawasan dan pengalaman klinis mereka dalam menangani kasus epilepsi.

Dokter spesialis anak konsultan neurologi, Dr. dr. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sp.A, Sp.Neuro (K), menegaskan bahwa epilepsi murni merupakan kondisi medis yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Ia memaparkan bahwa faktor genetik hanya menyumbang sekitar 25 persen kasus, sementara sisanya dipicu oleh infeksi, cedera otak, hingga komplikasi saat kelahiran. “Epilepsi itu bukan penyakit kutukan, bukan karena roh jahat, dan yang paling penting tidak menular,” tegas dr. Suwarba.

Baca Juga:   Manfaat Daun Sirih untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui

Di Bali sendiri, prevalensi epilepsi diperkirakan mencapai 7–8 per 100 ribu penduduk, dengan 30 persen diantaranya merupakan kasus kebal obat. Dr. Suwarba juga menyoroti banyaknya temuan kasus dari wilayah pedesaan yang sebelumnya jarang tersentuh layanan medis akibat faktor ekonomi dan stigma sosial. Ia juga menyoroti kecenderungan peningkatan kasus yang lebih terlihat, bukan semata karena lonjakan jumlah penderita, melainkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mencari pengobatan.

“Pasien datang dari desa-desa yang saya sendiri kadang belum pernah dengar namanya. Artinya mereka dari pelosok, dan biasanya datang sudah dalam kondisi cukup lama tidak ditangani,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan, tingginya temuan kasus di desa bukan berarti prevalensinya lebih tinggi dibanding kota, melainkan karena faktor keterlambatan penanganan dan akses layanan kesehatan.

Baca Juga:   Kuta Selatan Masih Rawan Rabies

Direktur Marketing SMC RS Telogorejo, Diana Loretta menjelaskan bahwa kehadiran pihaknya di Bali bertujuan untuk memperkuat posisi RS Telogorejo sebagai rumah sakit rujukan nasional. “Kami ingin masyarakat mengenal kami sebagai rujukan nasional dengan tenaga profesional yang berpengalaman, termasuk tim dokter yang menempuh pendidikan bedah saraf epilepsi di Jepang,” jelas Diana.

Dijelaskan, Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo merupakan institusi layanan kesehatan terkemuka di Indonesia yang memiliki fokus pada layanan unggulan jantung, saraf (neuro center), dan penyakit kompleks lainnya. SMC RS Telogorejo memiliki tiga center of excellence yaitu Telogorejo Heart Center (THC), Telogorejo Neuro Center (TNC), dan Telogorejo Fertility Center (TFC). Didukung oleh teknologi medis terkini dan tim dokter spesialis yang kompeten, RS Telogorejo berdedikasi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berfokus pada keselamatan pasien.

Baca Juga:   Kasus Tinggi dan Gejalanya Sering Diabaikan, Tumor Otak Jadi Ancaman Serius

Sementara itu, Corporate Business Marketing Communication Yayasan Kesehatan Telogorejo, Adhitia Budi menegaskan bahwa epilepsi masih kerap diselimuti stigma yang harus diluruskan melalui edukasi. “Sebagian besar orang masih melihat epilepsi sebagai kutukan. Padahal epilepsi itu bisa dipelajari dan diobati,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, Bali dipilih sebagai lokasi edukasi karena perannya sebagai hubungan kawasan Indonesia Timur. Salah satu poin krusial dalam seminar ini adalah edukasi mengenai tindakan bedah sebagai jalan keluar bagi pasien yang tidak lagi merespons obat-obatan.

Hal ini dibuktikan melalui kesaksian dr. Made Arimbawa, orang tua dari seorang penyintas epilepsi. Putrinya sempat mengalami kejang selama bertahun-tahun dan mengonsumsi hingga delapan jenis obat tanpa hasil signifikan. Namun, setelah menjalani operasi di Telogorejo Neuro Center pada 2016, kondisi sang anak membaik drastis. Kini, di usia 23 tahun, sang putri dapat beraktivitas normal dan bebas dari ketergantungan obat yang berlebihan. (BC18)