balibercerita.com –
Pemulihan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) nyatanya tidak berhenti saat ketukan pintu bangsal rumah sakit menyatakan mereka cukup sehat untuk pulang. Tantangan sesungguhnya justru baru dimulai ketika kaki mereka kembali melangkah ke tengah keluarga dan masyarakat. Di fase krusial ini, dukungan penuh keluarga menjadi penentu utama agar pasien tetap patuh berobat dan kembali produktif.
Sayangnya, realita di lapangan kerap berkata lain. Banyak pasien putus obat karena merasa sudah sembuh, terkendala jarak, hingga terganjal stigma sosial. Akibatnya fatal, angka kekambuhan melonjak, tak sedikit yang harus kembali dirawat, bahkan ada yang berakhir tragis dalam pemasungan.

Merespons tantangan nyata tersebut, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Manah Shanti Mahottama Provinsi Bali meluncurkan sebuah terobosan digital kemanusiaan yang diberi nama PELITA JIWA (Pelayanan Lewat Internet, Terintegrasi, dan Aman Jiwa). PELITA JIWA hadir sebagai inovasi pelayanan berbasis teknologi yang dirancang untuk memastikan pasien tidak “dilepas” begitu saja pasca-rawat inap. Melalui sistem terintegrasi ini, Rumah Sakit Jiwa Manah Shanti Mahottama, pasien, dan keluarga dapat terus berkomunikasi tanpa harus selalu bertatap muka langsung.
”Melalui pendekatan teknologi, pelayanan kami kini menjadi lebih cepat, mudah dijangkau, dan terintegrasi. Tenaga kesehatan akan memantau kondisi pasien secara daring, memberikan edukasi, hingga mengirimkan pengingat jadwal kontrol,” ungkap Kepala Bidang Pelayanan Medik RSJ Manah Shanti Mahottama, Ni Kadek Suartini, S. Kep., Ns., M.A.P.
Dengan pemantauan berkala ini, gejala-gejala awal kekambuhan dapat dideteksi lebih dini sebelum kondisi pasien memburuk. Nama PELITA JIWA dipilih bukan sekadar singkatan keren. Layaknya pelita yang memberi cahaya di tengah kegelapan, inovasi ini diharapkan menjadi simbol harapan, pendampingan, dan keberlanjutan bagi keluarga yang kerap merasa sendirian dalam merawat anggotanya yang mengalami gangguan jiwa.
Manfaat luas dari program ini dirasakan langsung oleh berbagai pihak. Bagi pasien, meningkatkan kepatuhan minum obat dan kontrol rutin sehingga peluang untuk pulih total dan kembali beraktivitas secara normal terbuka lebar. Bagi keluarga, memberikan ketenangan batin (peace of mind) karena memiliki akses konsultasi langsung dengan tenaga medis saat menghadapi kendala pengasuhan di rumah. Sementara, bagi RSJ Manah Shanti Mahottama, ini menjadi bukti nyata komitmen mentransformasi pelayanan kesehatan jiwa di Provinsi Bali agar lebih modern, adaptif, dan humanis.
Keberhasilan kesembuhan gangguan jiwa tidak hanya bertumpu pada dosis obat-obatan, melainkan pada rantai komunikasi dan kepedulian yang tidak boleh terputus. Melalui PELITA JIWA, RSJ Manah Shanti Mahottama optimistis dapat menekan angka kekambuhan secara signifikan dan mendongkrak kualitas hidup para pasien beserta keluarganya. Inovasi ini menegaskan bahwa setiap pasien berhak atas kesempatan kedua untuk pulih, setiap keluarga memegang peran krusial untuk mendampingi, dan teknologi hadir untuk mendekatkan pelayanan medis ke genggaman masyarakat. (BC9)


















