balibercerita.com –
Tumor otak masih menjadi ancaman serius karena sering kali terdeteksi saat ukurannya sudah besar dan menimbulkan komplikasi berat. Gejala yang muncul pada tahap awal kerap samar, bahkan sering dianggap perubahan biasa oleh pasien maupun keluarga.
Kondisi inilah yang membuat banyak pasien baru datang berobat ketika sudah mengalami gangguan serius seperti kelemahan anggota tubuh hingga kejang. Padahal, semakin cepat tumor ditemukan, peluang penanganan akan jauh lebih baik.
Dokter spesialis bedah saraf, dr. Steven Awyono, Sp.BS, FTO mengatakan, hingga kini tumor otak belum bisa dicegah sepenuhnya karena penyebab pastinya masih belum diketahui. “Tumor otak itu bukan sesuatu yang bisa kita cegah 100 persen. Karena penyebabnya pun belum jelas sampai saat ini,” ujarnya.
Menurut dr. Steven, secara umum terdapat teori yang mengaitkan tumor dengan penumpukan radikal bebas dalam tubuh yang dapat merusak sel. Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk membuang sel-sel rusak, namun ketika kerusakan menumpuk, risiko terbentuknya tumor dapat meningkat.
Meski begitu, khusus tumor otak, belum ada metode pencegahan yang benar-benar terbukti efektif. Oleh karena itu, langkah yang paling memungkinkan dilakukan saat ini adalah deteksi dini.
Ia menjelaskan, gejala tumor otak bisa berbeda tergantung lokasi dan ukuran tumor. Pada beberapa kasus, tumor kecil di area penting otak dapat cepat memunculkan keluhan. Namun tidak sedikit pasien justru memiliki tumor besar dengan gejala yang sangat minimal. “Yang sering muncul itu gangguan kepribadian. Sayangnya yang menyadari biasanya hanya orang-orang terdekat pasien,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab keterlambatan penanganan. Banyak pasien baru memeriksakan diri ketika tumor sudah berkembang besar dan operasi menjadi jauh lebih sulit dilakukan.
Berdasarkan pengalamannya menjalani pendidikan di Jepang, dr. Steven melihat perbedaan besar dalam deteksi tumor otak dibandingkan Indonesia. Di Jepang, tumor berukuran sekitar 2 sentimeter sudah bisa ditemukan dan ditangani lebih awal, sedangkan di Indonesia banyak pasien datang dengan ukuran tumor mencapai 6 hingga 8 sentimeter. “Perbedaannya sangat jauh dari sisi kesulitan operasi. Di sana deteksi dini atau screening berjalan lebih baik,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa tumor otak kerap ditemukan secara tidak sengaja saat pasien menjalani CT scan akibat kecelakaan atau trauma kepala. Setelah ditemukan, dokter biasanya akan melanjutkan pemeriksaan menggunakan MRI untuk memastikan ukuran, lokasi, dan risiko gangguan yang ditimbulkan.
Jika ukuran tumor masih kecil dan belum menimbulkan gejala, pasien umumnya hanya menjalani pemantauan rutin. Namun apabila tumor sudah besar atau berisiko, tindakan operasi menjadi pilihan utama. Ia menambahkan, tumor otak memiliki tingkatan atau grade dari 1 hingga 4. Semakin tinggi gradenya, semakin agresif sifat tumornya dan semakin panjang proses pengobatannya.
Untuk tumor ganas, pasien biasanya harus menjalani operasi, radioterapi, hingga kemoterapi yang total prosesnya dapat berlangsung sekitar sembilan hingga sepuluh bulan. Ia juga mengingatkan beberapa jenis tumor otak memiliki kemungkinan besar untuk tumbuh kembali meski sudah dioperasi dan diterapi. “Yang bisa kita lakukan saat ini adalah memperpanjang jarak waktu agar tumor tidak cepat muncul lagi,” tutupnya. (BC5)


















