Produk Lokal Belum Jadi Tuan di Rumahnya Sendiri, Padahal Indonesia Penghasil Teh Terbesar ke-6

0
319
Teh
Salah seorang barista sedang meracik teh. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –
Meski Indonesia merupakan negara penghasil teh terbesar ke-6 di dunia, pangsa pasar teh premium di dalam negeri masih didominasi oleh merek-merek asing. Hal ini membuat produk teh lokal, terutama yang berkualitas premium, belum sepenuhnya mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Manager Savis Tea, Novi, mengungkapkan bahwa potensi teh lokal Indonesia sebenarnya sangat besar, namun kurangnya edukasi kepada pasar menjadi salah satu kendala utama. “Selama ini, kalau kita bicara soal high tea, yang keluar justru brand-brand luar negeri. Padahal, Indonesia punya teh berkualitas tinggi yang tak kalah saing,” ujarnya.

Baca Juga:   Gojek dan Bali United Buka Peluang Generasi Muda Bali di Dunia Sepakbola Profesional

Melihat kondisi tersebut, Savis Tea hadir dengan misi mengenalkan dan mengangkat teh premium lokal ke panggung internasional. “Kami ingin memberikan alternatif bagi masyarakat yang ingin menikmati teh premium, tidak harus selalu dari luar negeri. Savis hadir sebagai pilihan lokal dengan kualitas tinggi,” tambah Novi.

Menurut Novi, salah satu tantangan utama dalam mengembangkan pasar teh lokal adalah minimnya pemahaman konsumen mengenai teh Indonesia. Banyak masyarakat yang masih lebih memilih teh impor dari negara seperti Srilanka atau Inggris, tanpa mengetahui bahwa kualitas teh lokal pun sangat kompetitif.

Baca Juga:   Minum Kopi di Atas Jam Dua Siang dan Peran Faktor Genetik

“Teh itu bukan sekadar minuman yang diseduh panas atau dingin. Lewat kelas-kelas seperti blending class, pairing class, hingga mocktail tea class, kami ingin menunjukkan bahwa teh bisa dikreasikan seperti wine, cocktail, atau mocktail. Ini bagian dari edukasi bahwa minum teh bisa jadi gaya hidup modern yang menyenangkan,” jelasnya.

Bali menjadi salah satu daerah yang berkontribusi besar terhadap pasar teh nasional, terutama karena geliat sektor Horeka (hotel, restoran, dan kafe) yang tinggi. “Kontribusi Bali terhadap pasar nasional bisa mencapai 30–40 persen. Dengan statusnya sebagai destinasi wisata dunia, Bali menjadi pintu masuk strategis untuk memperkenalkan teh lokal ke wisatawan mancanegara,” kata Novi.

Baca Juga:   Scared Of Bums Kembali dengan “Before It Burns”: Merayakan Api Lama dalam Wajah Baru

Savis Tea tak berjalan sendiri. Mereka juga membuka diri untuk berkolaborasi dengan pelaku industri teh lainnya dalam rangka membesarkan industri teh nasional. “Teh itu dunia yang luas dan menarik. Tapi kuncinya adalah bagaimana kita membuatnya menjadi menyenangkan dan relevan dengan gaya hidup saat ini,” tutup Novi.

Dengan langkah-langkah edukatif dan inovatif ini, Savis Tea berharap menjadi pionir dalam mengangkat pamor teh Indonesia ke level yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini