
balibercerita.com –
Di tengah pembangunan jalan lingkar selatan (JLS) yang digadang-gadang menjadi motor pertumbuhan kawasan Badung Selatan, Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Mangutama Badung memilih langkah hati-hati dalam melakukan ekspansi jaringan air bersih. Keterbatasan anggaran membuat perusahaan daerah tersebut belum bisa langsung ikut membangun jaringan distribusi di sepanjang jalur strategis itu.
Plt. Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung, Wayan Suyasa mengungkapkan, pihaknya sebenarnya melihat potensi besar dari pembangunan JLS. Namun kondisi keuangan perusahaan saat ini belum memungkinkan untuk melakukan investasi jaringan secara masif. “Kalau kami punya dana pengembangan, tentu langsung ikut. Tetapi saat ini kami belum memiliki kemampuan itu,” ujar Suyasa.
Meski belum dapat melakukan pemasangan jaringan pipa, Perumdam Tirta Mangutama telah menyampaikan harapan kepada pihak terkait agar pembangunan jalan tetap memperhatikan kebutuhan utilitas di masa depan. Menurutnya, ruang khusus untuk jaringan utilitas perlu disiapkan sejak awal agar ketika kebutuhan air bersih meningkat, pemasangan pipa tidak terkendala dan tidak perlu membongkar kembali badan jalan yang sudah selesai dibangun.
“Kami sudah berpesan agar disisakan ruang sedikit untuk utilitas, sehingga nanti bisa digunakan untuk pemasangan pipa. Jangan sampai seluruh area tertutup aspal sehingga menyulitkan pengembangan jaringan ke depan,” katanya.
Suyasa menegaskan, keputusan menunda investasi jaringan bukan tanpa alasan. Sebagai perusahaan layanan publik yang harus menjaga kesehatan keuangan, setiap proyek pengembangan wajib memiliki perhitungan bisnis yang jelas dan terukur.
Ia menilai penggunaan dana pinjaman untuk membangun jaringan di wilayah yang belum memiliki kepastian pelanggan justru berisiko membebani perusahaan. “Kalau kita meminjam uang sekarang, itu akan menjadi beban bagi Perumda. Setiap investasi harus ada perhitungan break even point (BEP) dan pengembaliannya. Kalau tidak, justru bisa menimbulkan kerugian,” jelasnya.
Karena itu, Perumdam Tirta Mangutama memilih strategi pembangunan berbasis kebutuhan. Jaringan baru akan dipasang ketika sudah ada permintaan atau kepastian pelanggan yang akan dilayani sehingga investasi yang dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan.
Langkah tersebut dinilai menjadi strategi realistis di tengah tingginya kebutuhan pengembangan infrastruktur air bersih dan keterbatasan sumber pendanaan. Di sisi lain, keberadaan ruang utilitas di sepanjang koridor JLS diharapkan menjadi investasi jangka panjang yang akan memudahkan pengembangan jaringan air bersih saat kawasan tersebut berkembang pesat di masa mendatang. (BC5)
















