Palebon Ibunda dan Kakak Wali Kota Denpasar Berlangsung Khidmat, Diiringi Dua Lembu dan Wadah

0
363
Palebon
Dua lembu yang digunakan saat upacara palebon ibu dan kakak dari Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Senin (4/8). (BC9)

Denpasar, balibercerita.com –
Upacara palebon almarhumah Jero Samiarsa, ibunda dari Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, telah berlangsung dengan khidmat pada Senin (4/8). Prosesi sakral ini turut diiringi dengan dua lembu, satu wadah, serta ogoh-ogoh yang diarak menuju setra di Desa Adat Peninjoan.

Upacara ini dilaksanakan bersamaan dengan palebon untuk almarhumah I Gusti Ayu Mirah Rosiati, anak kedua dari Jero Samiarsa. Iring-iringan lembu dan wadah mulai bergerak menuju setra sekitar pukul 12.30 Wita. Dalam prosesi tersebut, Jaya Negara tampak berada di atas wadah, mendampingi jenazah sang ibu dan kakaknya.

Baca Juga:   Bawakan Lagu Leak Saat Manggung, John And The Jail Story Ngaku Tak Ada Gangguan Gaib

Suasana haru dan penuh penghormatan menyelimuti momen penurunan jenazah ke dalam lembu sebelum proses pembakaran. Di sela-sela prosesi, Jaya Negara menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat pengguna jalan yang terdampak penutupan ruas Jalan Padma, Denpasar Timur, selama pengarakan berlangsung.

“Kami mohon maaf, mudah-mudahan dibukakan pintu maaf sehingga perjalanan Ibu saya menuju alam di sana, di atas, lebih bisa dilancarkan,” ujarnya.

Rangkaian upacara ngaben ini akan dilanjutkan hingga prosesi nganyut. Namun demikian, Jaya Negara menyebut bahwa keluarga besar akan menggelar rapat terlebih dahulu untuk menentukan lanjutan upacara lainnya.

Baca Juga:   Gus Bota Hadiri Pujawali di Pura Desa, Desa Adat Tiyingan

“Untuk sementara memang selesai. Untuk sementara kami akan melakukan rapat keluarga dulu untuk melakukan upacara selanjutnya,” ungkapnya.

Terkait penggunaan dua lembu dalam upacara ini, Jaya Negara menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan untuk menghormati sang kakak, I Gusti Ayu Mirah Rosiati, yang wafat sehari setelah prosesi nyiramin almarhum ibunda mereka. Sebelum berpulang, almarhumah sempat hadir dalam prosesi tersebut.

Upacara ngaben pun digelar secara bersamaan, dengan menggunakan satu wadah untuk mengantar kedua jenazah menuju setra, meski patulangan tetap dibuat terpisah sesuai adat.

Baca Juga:   Karya Melaspas, Ngelinggihang di Pura Puseh Bongan, Cemagi

“Jadi dalam proses upacara itu, patulangan itu tidak boleh digabung, harus dipisah. Sehingga prosesi kami jalankan dengan baik. Kalau tadi wadahnya menang kami jadikan satu,” terangnya.

Jaya Negara berharap, lewat pelaksanaan upacara ini, arwah sang ibu dan kakaknya mendapat jalan terbaik. Sebagaimana diketahui, upacara palebon Jero Samiarsa diawali dengan rangkaian prosesi nyiramin pada 20 Juli 2025, disusul ngaskara pada 2 Agustus 2025, dan mencapai puncaknya pada 4 Agustus 2025. Almarhumah wafat pada usia 90 tahun, pada 17 Juli 2025. (BC9)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini