Mangupura, balibercerita.com —
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja yang sempat memanas di awal tahun ini ternyata tidak berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata di kawasan Nusa Dua, Bali. Pihak pengelola menyatakan bahwa kondisi keamanan dan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi di Bali tetap tinggi.
“Kami tidak melihat ada pengaruh langsung dari konflik tersebut ke Nusa Dua, apalagi ketegangan itu sudah mereda. Kedua negara juga tampaknya cukup menyadari dampak negatif jika konflik terus berlanjut,” ujar General Manajer The Nusa Dua, Made Agus Dwiatmika.
Secara regional, potensi dampak dari konflik berkepanjangan tetap menjadi perhatian, terutama bagi stabilitas kawasan Asia Tenggara. Namun, pihak pengelola berharap bahwa konflik antara Thailand dan Kamboja dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan damai. “Selama ini, wisatawan dari kedua negara tersebut belum pernah masuk dalam 10 besar penyumbang kunjungan wisata ke Nusa Dua, sehingga tidak terlalu berpengaruh,” tambahnya.
Dalam sektor MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition), meskipun belum tergolong besar di kawasan, tingkat okupansi tetap stabil. Wisatawan asing mendominasi kunjungan ke Nusa Dua dengan kontribusi sekitar 60-70 persen, terutama dari Australia, Rusia, dan Tiongkok.
Salah satu ikon wisata di kawasan, Waterblow, mencatat kunjungan stabil antara 100 hingga 200 orang per hari. “Kami berharap angka ini dapat terus meningkat,” ujarnya.
Secara umum, kunjungan wisata di bulan Juli menunjukkan tren positif, memberikan sinyal pemulihan yang baik bagi industri pariwisata di Bali. (BC5)
















