balibercerita.com –
Di tengah dinamika cuaca ekstrem dan bencana yang terjadi di sejumlah daerah, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menegaskan bahwa pentingnya membangun narasi positif menjadi kunci menjaga kepercayaan wisatawan terhadap Bali dan kawasan wisata yang mereka kelola. Narasi yang tepat diyakini tidak hanya memberikan ketenangan, tetapi juga memperkuat citra destinasi sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk dikunjungi.
Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka menilai bahwa situasi alam yang tak menentu tidak boleh disampaikan dengan cara yang menambah kekhawatiran publik. Justru, tantangan tersebut harus direspons dengan komunikasi yang konstruktif, edukatif, dan memberi kepastian.
“Tahun ini banyak daerah terdampak bencana, cuaca juga tidak menentu. Itu realitas yang harus kita hadapi. Namun narasinya harus disampaikan secara positif, bahwa tantangan ini tidak menjadi hambatan bagi wisatawan untuk berlibur dengan aman,” ujarnya belum lama ini.
Menurut Troy, narasi positif bukan berarti menutup-nutupi kondisi yang ada, melainkan menyampaikan informasi secara proporsional yakni risiko dijelaskan, kesiapan kawasan ditegaskan, dan solusi dipaparkan. Banyak wisatawan membutuhkan kepastian bahwa mitigasi sudah berjalan dan destinasi tetap terkendali.
Karena itulah ITDC memilih aktif memberikan edukasi mengenai tips perjalanan, rekomendasi waktu aktivitas, hingga langkah-langkah mitigasi cuaca di kawasan. “Alam memang tidak bisa diprediksi, tetapi bagaimana dampaknya tidak terlalu besar pada perjalanan wisata, itu yang menjadi fokus kami,” tambahnya.
Optimisme juga tercermin dari tren okupansi yang diprediksi tetap positif di The Nusa Dua dan dua kawasan ITDC lainnya, didukung periode libur panjang akhir tahun. Hingga saat ini ITDC tidak melakukan penyesuaian target, melainkan memperkuat kualitas layanan agar wisatawan semakin yakin memilih Bali sebagai destinasi.
Troy menegaskan bahwa narasi positif, bila dibangun bersama oleh pemerintah, pelaku industri, dan pengelola kawasan, akan berdampak langsung terhadap persepsi wisatawan. Koordinasi intensif ITDC dengan pemerintah daerah, kepolisian, BMKG, serta pelaku industri pariwisata menjadi bagian dari upaya memastikan keamanan dan kenyamanan tetap terjamin. “Bali sangat kondusif. Penanganan dan pengawasan berjalan baik, sehingga wisatawan bisa menikmati liburannya tanpa rasa khawatir,” tegasnya.
Untuk menghadapi lonjakan kunjungan saat libur Nataru, ITDC juga menyiapkan command center, rekayasa lalu lintas, serta penambahan personel di sejumlah titik. Pendekatan mitigatif ini menjadi bagian dari narasi positif yang ingin ditegakkan: bahwa kawasan wisata siap, aman, dan dikelola secara profesional.
Sebagai bentuk empati terhadap daerah lain yang tengah terdampak bencana, ITDC memutuskan menyelenggarakan perayaan Tahun Baru secara sederhana. “Tidak glamor, karena ada rasa solidaritas kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir. Sebagian kegiatan bahkan diarahkan untuk mendukung program bantuan,” jelasnya.
Melalui konsistensi dalam menyampaikan narasi positif, kesiapan kawasan, dan empati terhadap situasi nasional, ITDC berharap wisatawan tetap merasa yakin dan aman menikmati libur Natal dan Tahun Baru di kawasan yang mereka kelola. (BC5)














