Kemarau 2026 di Bali Lebih Awal, Puncaknya Serentak Agustus

0
224
Kemarau di Bali
Kekeringan pada perbukitan di wilayah Buleleng akibat musim kemarau. (BC13)

balibercerita.com –
Pola musim di Bali tahun ini menunjukkan perubahan signifikan. Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih cepat di sebagian besar wilayah, bahkan berlangsung hampir serentak dengan puncak yang terjadi pada Agustus.

Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri mengatakan, prediksi ini didasarkan pada hasil analisis kondisi fisis serta dinamika atmosfer yang memengaruhi wilayah Bali. “Berdasarkan hasil analisis serta pertimbangan kondisi fisis dan dinamika atmosfer, awal musim kemarau 2026 di Bali umumnya diperkirakan terjadi pada rentang Maret hingga Mei,” ujarnya.

Dari total 20 Zona Musim (ZOM 417–436), sebanyak 2 ZOM (10 persen) diprediksi mulai memasuki kemarau pada Maret, 11 ZOM (55 persen) pada April, dan 7 ZOM (35 persen) pada Mei. Wilayah yang lebih dulu memasuki kemarau adalah Pulau Nusa Penida pada Maret dasarian I. Selanjutnya pada Maret dasarian II meliputi Gianyar bagian selatan, Klungkung bagian selatan, serta Karangasem bagian selatan.

Baca Juga:   Pencarian WNA Inggris Terseret Arus di Pantai Legian, Basarnas Bali Kerahkan Tim Laut dan Udara

Memasuki April, kemarau meluas signifikan. Pada dasarian I, sebagian besar wilayah Bali mulai mengalami musim kemarau, yakni Jembrana; Buleleng bagian barat, tengah, utara, dan timur; Karangasem bagian timur, tengah, dan selatan; Bangli bagian selatan; Klungkung bagian utara; Badung bagian selatan; Gianyar bagian selatan; Tabanan bagian selatan; hingga Kota Denpasar.

“Pada April dasarian II, wilayah Bangli bagian utara dan timur diprediksi mulai memasuki musim kemarau, kemudian disusul pada dasarian III meliputi Tabanan bagian tengah, Gianyar bagian selatan, serta Badung bagian tengah,” jelasnya.

Sementara itu, pada Mei sebanyak 7 ZOM mulai memasuki kemarau. Pada Mei dasarian I, wilayah yang terdampak meliputi Jembrana bagian timur; Tabanan bagian barat, utara, dan tengah; Buleleng bagian tengah, selatan, dan tenggara; Badung bagian utara dan tengah; Bangli bagian utara, tengah, dan selatan; Karangasem bagian barat; serta Gianyar bagian tengah.

Baca Juga:   Penanganan Sampah Diperkuat, Jimbaran Siapkan Skema Terpadu hingga Satgas Banjar

“Selanjutnya pada Mei dasarian II, wilayah Buleleng bagian selatan, Tabanan bagian utara, Badung bagian utara, Gianyar bagian utara, serta Bangli bagian tengah juga mulai mengalami musim kemarau,” imbuhnya.

Jika dibandingkan dengan rata-rata periode 1991–2020, sebanyak 13 ZOM (65 persen) diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat, 3 ZOM (15 persen) sama dengan normal, dan 4 ZOM (20 persen) mengalami kemunduran. “Artinya, sebagian besar wilayah Bali akan memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya,” tegas Aminudin.

Baca Juga:   Dr. Artika, Akademisi Undiksha yang Antusias Ngayah Demi Tanamkan Budaya Literasi

Selain itu, musim kemarau 2026 juga diprediksi didominasi kondisi kering. Sebanyak 18 ZOM (90 persen) diperkirakan mengalami sifat hujan bawah normal, sementara 2 ZOM (10 persen) berada pada kategori normal, yakni di Karangasem bagian timur, Tabanan bagian tengah, Gianyar bagian selatan, serta Badung bagian tengah. “Dengan dominasi sifat hujan bawah normal, curah hujan selama musim kemarau diperkirakan lebih rendah dari rata-rata klimatologis di sebagian besar wilayah Bali,” tukasnya.

Adapun puncak musim kemarau diprediksi terjadi secara serentak pada Agustus 2026 di seluruh wilayah Bali atau mencakup 20 ZOM (100 persen). “Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Agustus di seluruh wilayah Bali,” pungkasnya. (BC5)