balibercerita.com –
Sepanjang garis pantai kawasan Nusa Dua hingga Tanjung Benoa merupakan habitat alami penyu untuk bertelur. Namun, pesatnya perkembangan sektor pariwisata menjadi tantangan tersendiri karena aktivitas wisatawan secara tidak langsung berdampak pada keberlangsungan satwa laut tersebut.
Menyadari hal ini, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) selaku pengelola kawasan The Nusa Dua terus menggaungkan pesan konservasi, salah satunya melalui kegiatan pelepasan tukik. Langkah ini sejalan dengan visi The Nusa Dua sebagai kawasan green destination yang berkelanjutan.
General Manager The Nusa Dua, Made Agus Dwiatmika menjelaskan bahwa kawasan pantai di Nusa Dua secara reguler menjadi lokasi penyu bertelur. Karena itu, pihaknya aktif berkolaborasi dengan para tenant dan komunitas lokal dalam upaya perlindungan penyu.
“Konservasi sebenarnya sudah lama dilakukan tenant kami, terutama Bali Nusa Dua Beach Hotel. Kami mendukung penuh. Kebetulan bulan depan akan digelar Nusa Dua Festival, salah satu kegiatannya adalah pelepasan tukik sebagai wujud harmoni dengan alam,” ujarnya.
Kolaborasi dengan Komunitas
Dalam praktiknya, ITDC juga bekerja sama dengan Komunitas Bulih Bali yang berfokus pada penyelamatan sarang penyu. Telur-telur yang ditemukan dipindahkan ke lokasi aman untuk ditetaskan, sebelum dilepas kembali ke laut. Hal ini dilakukan karena intensitas wisatawan di sepanjang pantai, termasuk Nusa Dua dan Tanjung Benoa, cukup tinggi.
“Banyak aktivitas wisata di kawasan ini. Karena itu Bulih Bali berperan menjaga telur-telur penyu hingga menetas, kemudian tukik dilepas ke pantai. Dengan begitu tingkat keberhasilan hidup lebih tinggi,” jelasnya.
Sejak kawasan Nusa Dua dibangun, ITDC selalu mengedukasi tenant untuk ikut menjaga keberadaan penyu. Bali Nusa Dua Beach Hotel, St. Regis, hingga The Bay, misalnya, memberi tanda khusus pada lokasi sarang penyu dan membuat pagar pembatas hingga menetas.
“Biasanya penyu yang menetas akan dirawat semalam, lalu dilepas ke laut keesokan harinya. Hal ini untuk memastikan tukik benar-benar siap kembali ke habitatnya,” imbuhnya.
Upaya konservasi ini juga dimaksudkan sebagai edukasi bagi wisatawan. Menurut penjelasan Komunitas Bulih Bali, penyu yang dilepas akan kembali ke pantai tempat mereka lahir sekitar 15 tahun kemudian untuk bertelur kembali.
“Ini menjadi pengalaman unik bagi wisatawan, terutama anak-anak, untuk belajar bahwa menjaga alam itu mudah tapi juga menantang. Jika dari kecil mereka sudah memahami pentingnya konservasi, harapannya akan tumbuh kesadaran bersama untuk melestarikan alam,” pungkasnya. (BC5)
















