Tabanan, balibercerita.com –
Desa Pinge merupakan sebuah desa wisata yang berada di wilayah Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Desa ini yang memiliki luas wilayah sekitar 140 hektar, dengan jumlah penduduk 164 KK atau 800-an orang. Desa Pinge sendiri berjarak sekitar 34 km dari pusat Kota Denpasar. Jika anda menggunakan sepeda motor, waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai desa itu kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan.
Memasuki kawasan Desa Pinge, anda akan disuguhkan pemandangan alam yang asri, hijau, bersih dan tertata. Bahkan hiruk pikuk kebisingan kendaraan relatif sirna ketika anda tiba di desa wisata ini. Sesekali melihat ke sungai, tatanan irigasi di sana juga terlihat terjaga. Warga desa sangat ramah, karena senyum sapa akan sangat sering ditemui ketika anda bertemu warga setempat
Desa Wisata Pinge dikelola langsung oleh Badan Pengelola Desa Wisata Pinge. Awalnya, konsep desa wisata dikembangkan melalui kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang diterjemahkan menjadi Badan Pengelola Desa Wisata. Konsep desa wisata di Pinge sendiri merupakan desa wisata berbasis masyarakat (community based tourism) berlandaskan Tri Hita Karana.
Lantaran tidak mempunyai destinasi wisata, maka ditawarkanlah aktivitas wisata layaknya kehidupan masyarakat desa. Wisatawan diberikan pengalaman hidup di desa. Wisatawan nantinya akan diperlakukan seperti anak asuh. Mereka akan diajak oleh keluarga asuhnya untuk mengikuti segala rutinitas masyarakat desa. Mulai dari aktivitas ke sawah, mengukir, aktivitas adat, keagamaan, dan rutinitas lainnya.
Selama menginap di Pinge, wisatawan akan tinggal di rumah wisata, yang notabene juga ditempati atau dikelola warga setempat. Wisatawan diperlakukan layaknya keluarga dan makan bersama, terkecuali ada permintaan masakan khusus. Selain aktivitas tersebut, wisatawan juga dapat menikmati beberapa jalur tracking yang memiliki panjang rute bervariasi. Bagi anda yang tertarik dengan peninggalan sejarah Hindu, anda juga dapat berkunjung ke cagar budaya Pura Natar Jemeng, yang berlokasi di sebelah utara desa.
Dengan mengadopsi konsep Tri Hita Karana, Desa Wisata Pinge berkomitmen menjaga dan mengembangkan potensi alam, termasuk melestarikan seni, budaya dan tradisi yang ada di desa. Kesenian yang dapat dinikmati wisatawan adalah pementasan sekaa penabuh Leko. Mereka memainkan campuran instrumen musik gerantang dan bumbung. Wisatawan juga dapat menikmati pementasan tarian Bumbung Gebyog khas Desa Pinge. Semula tarian ini amat sangat disakralkan, namun tarian itu kini sudah dimodifikasi agar bisa dipentaskan secara umum.
Di hari tertentu, wisatawan dapat melihat penjor khas warga Pinge yang tertancap di depan pekarangan warga. Penjor tradisi galungan itu memiliki jumlah gelang-gelangan yang selalu ganjil, antara 5 atau 7 gelang-gelangan. Selain itu, posisi sanggah penjor juga menghadap ke utara. Hal itu berbeda dengan posisi sanggah penjor di desa lainnya, yang pada umumnya menghadap ke depan rumah. Uniknya, pada salah satu dinding Banjar Pinge juga berisi ukiran kuno yang tetap terpelihara dengan baik.
Pihak pengelola menyediakan beberapa paket bagi kunjungan wisatawan, seperti paket menginap 1 hari dan paket 3 hari 2 malam dengan biaya mulai dari Rp 250 ribu per orang. Sementara, untuk wisatawan yang tidak menginap dikenakan punia per kegiatan, seperti jogging track sebesar Rp 10 ribu. (BC5)















