Demokrat Bali Lanjutkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri di Denpasar

0
18
Penanaman pohon sebagai rangkaian Gerakan Langit Biru Indonesia Asri.
Penanaman pohon sebagai rangkaian Gerakan Langit Biru Indonesia Asri. (ist)

balibercerita.com –  

DPD Partai Demokrat Provinsi Bali menggelar aksi lingkungan bertajuk “Gerakan Langit Biru Indonesia Asri” yang dirangkaikan dengan lomba kerakyatan di Sekretariat DPD Partai Demokrat Bali, Denpasar, Minggu (23/8). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia dan menyambut HUT ke-25 Partai Demokrat yang puncak perayaannya jatuh pada 9 September 2026.

Kegiatan ini turut dihadiri anggota Komisi IX DPR RI Dapil Bali Tutik Kusuma Wardhani, Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, I Komang Nova Sewi Putra, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Denpasar, Anak Agung Ketut Asmara Putra (Gus Cilik), Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Buleleng, Luh Gede Herryani, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Tabanan, I Wayan Adnyana, serta jajaran pengurus dan kader se-Bali.

Dalam aksi tersebut, Demokrat Bali menanam pohon yang berjumlah serba 25, mencakup 25 pohon kenanga, 25 pohon cempaka, dan 25 pohon kembang sepatu. Angka tersebut dipilih secara khusus untuk menyimbolkan usia seperempat abad Partai Demokrat.

Baca Juga:   Pura Taman Pecampuhan Sala, Perpaduan Eksotisme Alam dan Daya Magis yang Sempurna

Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Bali, I Made Mudarta menjelaskan, pemilihan lokasi kegiatan di sekretariat DPD yang berhadapan langsung dengan kawasan civic center memiliki alasan strategis. “Persis kantor kita ini kan depannya di civic center, pusat pemerintahan, ibu kota Provinsi Bali juga. Maka wajib lingkungannya bersih. Karena mencintai Bali itu adalah menjaga kebersihannya, tidak hanya membersihkan sampah, tapi juga jangan membuang sampah sembarangan,” ujarnya. 

Selain aksi penanaman pohon, Demokrat Bali menyoroti persoalan penanganan sampah di Pulau Dewata. Mudarta mengemukakan visi besar partai untuk mendorong pengelolaan sampah mandiri berbasis desa agar sampah tidak berpindah wilayah dan mencemari ruang publik atau kawasan wisata.

“Sesungguhnya berdasarkan aspirasi kader kami di seluruh Bali, ke depan sampah itu hendaknya dikelola berbasis desa sehingga tidak ada sampah yang bergerak dari satu desa ke desa yang lain. Sampah harus diselesaikan mulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah organik dan anorganik,” tegasnya.

Baca Juga:   Bali Masih Diguyur Hujan di Awal Kemarau, BMKG Ungkap Pengaruh MJO dan Belokan Angin

Untuk mendukung konsep tersebut, Demokrat Bali mendorong adanya peningkatan alokasi Dana Desa guna membangun fasilitas pengolahan sampah seperti tempat pengolahan sampah reuse, reduce, recycle (TPS 3R). Langkah ini diyakini tidak hanya menjaga kelestarian alam sesuai konsep Tri Hita Karana, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja lokal dan menggerakkan ekonomi desa.

Mudarta menilai pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan. Jika dikelola secara baik, sampah juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi desa dan menciptakan lapangan kerja lokal. Selain persoalan sampah, Demokrat Bali juga menyoroti pentingnya penghijauan. Penanaman pohon dinilai sebagai langkah nyata untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus mencegah kawasan menjadi gundul.

Gerakan tersebut, kata Mudarta, merupakan bentuk komitmen Demokrat dalam merawat bumi sekaligus menjalankan nilai Tri Hita Karana, khususnya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Ia berharap jumlah pohon yang ditanam semakin banyak sehingga lingkungan menjadi lebih sejuk dan kualitas udara tetap terjaga dengan baik.

Baca Juga:   Demokrat Bali Minta Dana Desa Ditambah, Dorong Tiap Desa Kelola Sampah Mandiri

“Kalau buminya dirawat dengan menanam pohon dan merawat pohon, langitnya akan tetap biru. Ketika ada langit biru, kita bisa hidup di bawahnya dengan nyaman, tenang, dan damai,” ucapnya. 

Selain itu, DPD Partai Demokrat Provinsi Bali mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk segera memanfaatkan momentum musim kemarau guna melakukan pengerukan lumpur dan normalisasi aliran sungai, salah satunya di Tukad Badung, Denpasar. Mudarta menyampaikan bahwa pendangkalan dan penyempitan sungai akibat luapan sampah serta alih fungsi lahan menjadi penyebab utama banjir besar pada musim hujan sebelumnya.

“Sekarang adalah momentum untuk melakukan normalisasi. Semua sungai harus dinormalisasi, dikembalikan sebagaimana ciptaan Tuhan. Langkah antisipasi ini penting dilakukan agar saat musim hujan tiba, bencana banjir besar tidak terulang kembali dan sampah tidak terbawa hingga mengotori wilayah lautan,” pungkasnya. (BC18)