balibercerita.com –
Memasuki puncak musim hujan, BMKG mengingatkan masyarakat Bali untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem selama sepekan ke depan. Bukan hanya perubahan cuaca, tetapi juga risiko turunan seperti banjir lokal, pohon tumbang, hingga gelombang tinggi di laut yang perlu diantisipasi lebih awal.
Prakirawan BMKG Wilayah III, Luh Nyoman Didik Tri Utami menjelaskan bahwa dinamika atmosfer yang semakin aktif ditandai oleh pola belokan angin (shearline) dan tingginya kelembapan udara hingga lapisan 500 mb, kondisi yang sangat mendukung pembentukan awan hujan berintensitas sedang hingga lebat.
BMKG memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi diguyur hujan, meliputi Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, dan Tabanan. Sementara, angin dominan bertiup dari arah selatan-barat dengan kecepatan maksimum 32 knot, yang dapat memicu tingginya gelombang laut.
Di kawasan perairan, gelombang kategori sedang (1,25 sampai 2,5 meter) diperkirakan terjadi di Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Perairan Selatan Bali, Selat Lombok bagian selatan. Kondisi ini dapat membahayakan aktivitas pelayaran, khususnya perahu nelayan dan kapal tongkang, yang berisiko tinggi ketika kecepatan angin dan tinggi gelombang melewati batas aman.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan memastikan lingkungan sekitar dalam kondisi aman. Pantau InfoBMKG sebelum beraktivitas,” jelas Luh Nyoman Didik.
Sebagai bentuk mitigasi sederhana terhadap dampak cuaca ekstrem, BMKG mengingatkan warga untuk memastikan saluran air tidak tersumbat, menjaga kebersihan lingkungan, tidak berteduh di bawah pohon saat hujan disertai angin kencang, berhati-hati saat melaut, khususnya di jam-jam angin paling aktif.
BMKG memperbarui prakiraan cuaca dua kali sehari, pagi dan malam. Masyarakat diimbau mengakses informasi resmi mengingat kondisi cuaca Bali yang sangat dinamis dan bisa berubah dalam waktu singkat. (BC5)



















