balibercerita.com –
Aktivitas di warung milik Desi Hidayanti Damuri di Klungkung kini tak lagi sekadar jual beli kebutuhan pokok. Dalam beberapa tahun terakhir, tempat usaha sederhana itu berkembang menjadi lokasi transaksi keuangan yang ramai didatangi warga, terutama para pekerja pendatang.
Perjalanan tersebut dimulai sekitar 14 tahun lalu ketika Desi memutuskan bergabung menjadi Agen BRILink. Saat itu, layanan transfer uang masih belum umum digunakan masyarakat sekitar. Transaksi yang masuk pun sangat minim, hanya beberapa orang setiap hari. “Dulu orang-orang masih banyak yang bingung transfer. Kalau kirim uang ya harus ke bank atau ATM. Karena di sini banyak pekerja pendatang, akhirnya mereka mulai cari tempat transfer yang lebih dekat,” ujarnya.
Dengan modal sekitar Rp10 juta, Desi mulai menyediakan layanan transfer dan transaksi perbankan di warungnya. Meski keuntungan awal belum besar, ia melihat peluang yang terus tumbuh di lingkungan tempat tinggalnya yang dipenuhi pekerja dari luar daerah. “Awalnya paling cuma tiga sampai empat orang transaksi. Fee-nya sedikit, tapi saya lihat ada peluang. Akhirnya saya berani tambah modal lagi,” katanya.
Seiring meningkatnya kebutuhan layanan keuangan, jumlah pelanggan terus bertambah. Banyak pekerja memanfaatkan layanan transfer untuk mengirim uang kepada keluarga di kampung halaman.
Saat ini, transaksi tarik tunai justru menjadi layanan yang paling sering digunakan. Menurut Desi, para pekerja pelabuhan hingga buruh angkut kerap mengambil uang tunai dalam nominal besar untuk kebutuhan pembayaran harian. “Kalau sekarang malah banyak yang tarik tunai. Ada yang sehari narik Rp10 juta sampai Rp15 juta berkali-kali.” ujarnya.
Dalam kondisi ramai, jumlah transaksi di warungnya dapat mencapai 100 hingga 150 transaksi setiap hari. Selain transfer dan tarik tunai, pelanggan juga memanfaatkan layanan pembayaran listrik, isi ulang dompet digital, serta pembelian pulsa.
Kehadiran layanan BRILink disebut turut memberi dampak positif terhadap usaha warung yang dijalankannya. Banyak pelanggan yang datang untuk bertransaksi kemudian berbelanja kebutuhan rumah tangga. “Dulu warung sepi sekali. Barang juga sedikit. Sekarang orang datang transfer sekalian beli beras, mie, kebutuhan lain. Sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya.
Pendapatan tambahan dari layanan BRILink pun rutin disisihkan Desi untuk tabungan maupun investasi keluarga. Hasil usaha tersebut ikut membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga membeli perlengkapan rumah.
Meski kini usahanya berkembang, Desi mengaku sempat menghadapi kendala pada awal menjalankan layanan transaksi digital. Ia pernah mengalami kerugian hingga Rp5 juta akibat kesalahan saat sistem transaksi masih belum stabil. “Dulu pernah transfer Rp5 juta tapi struk nggak keluar. Saya ulang lagi karena belum ngerti sistemnya. Ternyata saldo kepotong dua kali. Setelah diurus ke bank, alhamdulillah saldo bisa kembali.” kenangnya.
Pengalaman tersebut membuatnya lebih memahami sistem transaksi digital dan lebih berhati-hati menghadapi kendala jaringan maupun transaksi pending.
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya menyebut, Agen BRILink berperan penting dalam memperluas akses layanan keuangan hingga ke wilayah permukiman dan daerah yang jauh dari kantor perbankan. Program tersebut tidak hanya mempermudah masyarakat memperoleh layanan transaksi, tetapi juga membuka peluang tambahan penghasilan bagi pelaku usaha kecil. “Dengan menjadi Agen BRILink, masyarakat tetap bisa menjalankan usaha utamanya sambil memperoleh tambahan penghasilan dari layanan perbankan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan agen BRILink kini semakin penting untuk menjawab kebutuhan layanan perbankan di kawasan padat penduduk maupun wilayah dengan akses terbatas. Saat ini, jumlah Agen BRILink aktif di wilayah Bali, NTB, dan NTT tercatat mencapai 4.182 agen. (BC13)

















