balibercerita.com –
Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir Bali diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir pesisir atau rob yang diperkirakan terjadi pada periode 30 Mei hingga 5 Juni 2026. Fenomena ini dipicu oleh adanya bulan purnama pada 31 Mei 2026 yang berpotensi meningkatkan ketinggian maksimum air laut.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan data water level dan prediksi pasang surut, sejumlah wilayah pesisir di Bali berpotensi terdampak rob. “Adanya fenomena bulan purnama pada tanggal 31 Mei 2026 berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum. Berdasarkan hasil pemantauan dan prediksi pasang surut, banjir pesisir berpotensi terjadi di beberapa wilayah pesisir Bali,” ujarnya.
Wilayah yang berpotensi mengalami rob meliputi pesisir selatan Jembrana, pesisir selatan Kabupaten Tabanan, pesisir Kabupaten Badung, pesisir Kota Denpasar, pesisir Kabupaten Gianyar, serta pesisir selatan Kabupaten Klungkung.
Menurutnya, waktu terjadinya rob tidak sama di setiap wilayah. Perbedaan kondisi pasang surut menyebabkan potensi banjir pesisir dapat terjadi pada hari dan jam yang berbeda-beda di masing-masing daerah.
BMKG mengingatkan bahwa fenomena ini dapat berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat di kawasan pesisir. Mulai dari kegiatan bongkar muat di pelabuhan, aktivitas warga di permukiman pesisir, hingga kegiatan budidaya tambak garam dan perikanan darat berpotensi terganggu akibat naiknya permukaan air laut.
Selain itu, kawasan wisata pantai juga perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat pasang maksimum terjadi. Pengelola destinasi wisata di pesisir diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan kondisi laut guna mengantisipasi potensi gangguan terhadap aktivitas wisatawan.
Cahyo Nugroho menegaskan, meskipun rob merupakan fenomena yang lazim terjadi saat pasang maksimum air laut, masyarakat tetap perlu meningkatkan kesiapsiagaan agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan. “Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan siaga terhadap potensi pasang maksimum air laut serta terus memperhatikan pembaruan informasi cuaca maritim yang dikeluarkan BMKG Wilayah III,” tegasnya.
BMKG juga meminta masyarakat pesisir, nelayan, pelaku usaha kelautan, hingga pengelola pelabuhan untuk secara berkala memantau informasi resmi guna memperoleh perkembangan terbaru terkait kondisi cuaca dan gelombang laut selama periode potensi rob berlangsung. (BC5)



















