Suhu Udara di Kintamani Mencapai 11 Derajat Celcius, BMKG: Fenomena Lazim yang Masuk Lebih Awal

0
4
Kintamani
Kawasan Danau Batur, Kintamani. (BC13)

balibercerita.com –
Suhu udara dingin yang belakangan dirasakan masyarakat Bali menjadi perhatian, terutama setelah beredar informasi bahwa suhu di kawasan Batur, Kintamani, yang mencapai 11 derajat Celcius pada Minggu (31/5).

Menyikapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, menghindari aktivitas berlebihan yang memicu kelelahan, serta menggunakan pakaian hangat pada malam hingga dini hari bila diperlukan.

Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, Brian Eko Permadi mengatakan, suhu dingin yang terjadi di wilayah Kintamani masih sangat mungkin terjadi mengingat kawasan tersebut berada di daerah dataran tinggi dengan karakteristik topografi yang berbeda dibandingkan wilayah lain di Bali. Berdasarkan data pengamatan meteorologi di Bali, suhu terendah yang tercatat di wilayah perkotaan terjadi di Negara dengan suhu mencapai 19 derajat Celsius.

Baca Juga:   Ingatkan Covid-19 Masih Ada, Binda Bali Gelar Vaksinasi di Sobangan

Sementara, berdasarkan data stasiun cuaca otomatis BMKG, suhu terendah terpantau di kawasan Kintamani yang mencapai sekitar 15 derajat Celcius. “Perbedaan suhu antarwilayah dipengaruhi oleh faktor topografi. Fenomena suhu udara dingin ini juga dirasakan di wilayah selatan Pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, terutama pada malam hingga pagi hari. Secara umum, tren suhu tahun ini masih relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya, namun suhu yang terjadi beberapa hari terakhir memang berada di bawah rata-rata bulanan sehingga terasa lebih dingin,” jelasnya.

Brian menerangkan, suhu dingin yang terjadi saat ini merupakan fenomena tahunan yang lazim terjadi ketika memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh gerak semu tahunan matahari yang saat ini berada di Belahan Bumi Utara (BBU), sehingga wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, termasuk Bali, mengalami defisit penyinaran matahari. Akibatnya, suhu udara pada siang maupun malam hari menjadi lebih rendah dibandingkan periode lainnya.

Baca Juga:   Sampah Kiriman di Pantai Badung Didominasi Kayu dan Bambu

Aktifnya Monsun Australia turut memperkuat kondisi udara dingin di Bali. Saat ini Australia sedang memasuki musim dingin dengan tekanan udara yang relatif tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan massa udara dingin dari Australia bergerak menuju wilayah Indonesia, termasuk Bali dan sekitarnya.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kondisi langit yang cenderung cerah dengan tutupan awan yang minim. Situasi ini membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari sehingga udara terasa lebih dingin, terutama menjelang pagi.

“Langit yang cerah menyebabkan panas radiasi matahari lebih mudah dilepas ke atmosfer. Akibatnya suhu udara di dekat permukaan menjadi lebih dingin, khususnya pada malam hingga pagi hari,” terangnya.

Baca Juga:   Begini Cara Tol Bali Mandara Antisipasi Angin Kencang dengan Teknologi Anemometer

Menurut Brian, penurunan suhu udara mulai terpantau secara bertahap sejak akhir Mei. Meski umumnya fenomena ini mulai terasa pada Juni, tahun ini udara dingin sudah mulai dirasakan sejak sekitar 29 Mei. “Fenomena suhu dingin ini merupakan kejadian normal yang berulang setiap tahun, terutama pada periode Juni, Juli hingga Agustus, dengan puncaknya biasanya terjadi pada Agustus bersamaan dengan puncak musim kemarau,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa fenomena suhu dingin tersebut tidak berkaitan langsung dengan El Nino. Menurutnya, El Nino lebih berpengaruh terhadap pola curah hujan, sedangkan suhu dingin yang terjadi saat ini merupakan dampak dari gerak semu matahari dan aktifnya Monsun Australia. (BC5)