balibercerita.com –
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, sektor pariwisata Indonesia justru melihat peluang. Kondisi tersebut dinilai membuat biaya berlibur wisatawan mancanegara ke Indonesia semakin terjangkau sehingga meningkatkan daya tarik destinasi-destinasi wisata nasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan ekonomi global, Indonesia justru memiliki peluang memperkuat daya saing pariwisata sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini mengatakan bahwa pelemahan rupiah memberikan keuntungan dari sudut pandang wisatawan asing. Dengan nilai tukar yang lebih menguntungkan, wisatawan memperoleh lebih banyak manfaat dari uang yang mereka belanjakan selama berlibur di Indonesia.
“Kalau kita melihat dari kacamata konsumen atau wisatawan mancanegara, tentu dengan pelemahan rupiah buat mereka lebih murah. Istilahnya best value for money,” ujarnya belum lama ini di Nusa Dua.
Menurut Ayu Marthini, dampak positif tersebut mulai terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan asal Malaysia. Kuatnya ringgit terhadap rupiah membuat daya beli wisatawan Malaysia meningkat saat berkunjung ke Indonesia. Selain itu, wisatawan dari negara lain juga menilai paket wisata Indonesia menjadi lebih kompetitif dibanding sejumlah destinasi pesaing.
Di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik global, pemerintah pun mulai mengarahkan strategi promosi ke pasar yang lebih realistis dan memiliki konektivitas kuat dengan Indonesia. Pasar kawasan Asia, ASEAN, dan Australia kini menjadi fokus utama untuk menjaga pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara.
Meski wisatawan Asia umumnya memiliki durasi tinggal lebih singkat dibanding wisatawan asal Eropa atau Amerika, pemerintah tetap optimistis pasar tersebut mampu menopang pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Apalagi, tren kunjungan dari Malaysia dan China terus menunjukkan peningkatan. “China itu dua digit, 25 persen tinggi sekali peningkatannya,” ungkap Ayu Marthini.
Senada dengan itu, Chairman Bali & Beyond Travel Fair 2026 sekaligus Ketua Asita Bali, I Putu Winastra menilai pelemahan rupiah juga memberi keuntungan bagi pelaku industri yang memasarkan paket wisata dalam mata uang asing. Menurutnya, kondisi tersebut meningkatkan nilai pendapatan yang diterima pelaku usaha ketika dikonversi ke rupiah.
Namun, ia mengingatkan bahwa industri tetap harus memperhatikan regulasi penggunaan mata uang asing dalam transaksi di Indonesia. Winastra menambahkan, sektor pariwisata Bali relatif tidak terlalu terdampak kenaikan harga barang impor karena produk utama yang dijual adalah pengalaman wisata dan budaya lokal. “Yang kami jual itu experience dan culture. Itu tidak memerlukan impor dari luar negeri,” katanya. (BC5)














