balibercerita.com –
Peran pembiayaan dari sektor perbankan semakin terlihat signifikan dalam mendorong pertanian organik bernilai tinggi, termasuk komoditas paprika. Skema kredit yang lebih terbuka memberi ruang bagi petani untuk berinovasi sekaligus memperluas skala usaha, seperti yang dirasakan Made Sandi, petani asal Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Tabanan.
Sandi membuktikan bahwa kombinasi akses modal dan keberanian mencoba pendekatan baru mampu menggeser praktik pertanian konvensional menjadi bisnis hortikultura premium. Ia kini fokus membudidayakan paprika jenis dutch berbasis organik yang telah berhasil menembus pasar perhotelan.
“Awalnya memang terkendala biaya, terutama untuk bibit yang harganya cukup mahal. Tapi kami coba cari cara supaya bisa efisien, yaitu dengan mengembangkan bibit sendiri,” ujarnya saat ditemui, Selasa (14/4).
Dalam kurun empat tahun terakhir, Sandi mengembangkan sistem budidaya paprika berbasis greenhouse di lahan sekitar 2,5 are. Dengan total 860 pot atau sekitar 1.600 tanaman, ia mampu menjaga produksi stabil melalui pola panen harian.
Setiap panen menghasilkan sekitar 20 hingga 40 kilogram paprika. Angka ini bahkan bisa meningkat hingga 100 kilogram jika dilakukan panen total sesuai kebutuhan pasar. Dalam satu siklus tanam, masa produksi dapat berlangsung hingga delapan bulan.
Untuk memastikan kualitas tetap terjaga, Sandi memanfaatkan teknologi smart farming, mulai dari pengaturan nutrisi hingga sistem irigasi otomatis. Upaya ini menghasilkan paprika berkualitas premium dengan harga jual yang tinggi, paprika merah mencapai Rp150 ribu per kilogram, hijau Rp125 ribu, dan kuning bahkan pernah menembus Rp200 ribu per kilogram.
Lonjakan permintaan terhadap produk organik, khususnya dari industri perhotelan, turut menjadi faktor pendorong keberhasilan usaha ini. Pasar kini semakin membutuhkan pasokan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga berkelanjutan.
Di sisi lain, sektor perbankan nasional terus memperkuat dukungannya terhadap pertanian organik. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menjadi salah satu yang aktif memperluas akses pembiayaan bagi petani. Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya menegaskan komitmen tersebut.
“BRI berkomitmen mendukung pengembangan pertanian organik melalui akses pembiayaan yang mudah dan inklusif. Sektor ini tidak hanya memiliki potensi ekonomi besar, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), pihaknya tidak hanya menyediakan pembiayaan yang mudah dijangkau, tetapi juga memberikan pendampingan serta edukasi keuangan kepada petani. “Tidak hanya pembiayaan, kami juga mendorong peningkatan kapasitas petani agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan dan berdaya saing,” imbuhnya.
BRI optimistis kolaborasi antara perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha akan mempercepat pertumbuhan pertanian organik, terutama di Bali dan Nusa Tenggara. Di tengah tantangan biaya produksi dan keterbatasan teknologi, akses modal menjadi elemen penting dalam mendorong transformasi menuju pertanian modern berbasis inovasi. (BC13)

















