Prints in Motion: Eksplorasi Dinamis Seni Grafis Kontemporer di Labyrinth Art Gallery

0
135
Prints in Motion
Pameran Prints in Motion di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City. (ist)

balibercerita.com –
Labyrinth Art Gallery di Nuanu Creative City menghadirkan pameran terbaru bertajuk Prints in Motion, hasil kolaborasi dengan Devfto Printmaking Institute yang berlangsung hingga 26 Mei 2026. Pameran ini menghadirkan 27 seniman dari lima negara yaitu Indonesia, Prancis, Rusia, Swiss, dan Inggris.

Para seniman bersama-sama mengeksplorasi printmaking sebagai praktik seni kontemporer yang dinamis dan terus berkembang. Kehadiran pameran ini sekaligus mencerminkan komitmen Nuanu dalam menciptakan ruang bagi eksperimen artistik, pertukaran gagasan, serta keterlibatan publik di Bali.

Selama ini, printmaking kerap diasosiasikan sebagai teknik reproduksi. Namun dalam Prints in Motion, medium ini justru diposisikan sebagai ruang yang membuka berbagai kemungkinan, baik sebagai sarana penciptaan, eksplorasi, maupun pendekatan formal. Beragam teknik seperti relief, intaglio, hingga litografi ditampilkan berdampingan dengan proses alternatif dan pendekatan lintas media, memperlihatkan bagaimana batas antara praktik manual dan eksperimental kini semakin cair.

Baca Juga:   Festival Dresta Lango Ogoh-ogoh di GWK Cultural Park 

Pameran ini mempertemukan seniman dengan latar belakang dan pendekatan beragam, diantaranya Alisa Alisova, Aryatama Nugraha, Cecil Mariani, Christian Kochalski, Dayu Sartika, Devy Ferdianto, Dewa Made Johana, Dodit Hartawan, Eddie Hara, Evan Aditya, Gabriel Aries Setiadi, Handoko Njotomuljono, I Made Aswino Aji, I Made Wiradana, Ida Bagus Putu Purwa, Louise Henryette, LuhDe Gita, Mila Alexander, Ni Nyoman Sani, Nurrachmat Widyasena, Nyoman Erawan, Sekarputi Sidhiawati, Soni Irawan, Ugo Untoro, Ustina Yakovleva, Valasara, dan Wayan Upadana.

Berangkat dari praktik dan pengalaman yang berbeda, para seniman ini menunjukkan bahwa printmaking dapat berfungsi sebagai medium yang fleksibel, baik secara teknis maupun konseptual, dalam merespons perkembangan seni kontemporer.

Baca Juga:   Bali Interfood 2025 Siap Dongkrak Sektor Mamin dan Pariwisata

“Apa yang menarik bagi kami dari pameran ini adalah kesempatan untuk memberi ruang lebih bagi medium yang sering kali terpinggirkan atau direduksi menjadi sekadar teknik. Di sini, printmaking menjadi sesuatu yang jauh lebih terbuka. Ia memuat proses, eksperimen, disiplin, sekaligus elemen kejutan dan menurut kami, itu penting untuk dihadirkan,”ujar Kelsang Dolma, Gallery Director Labyrinth Art Gallery.

Pameran ini juga menyoroti pentingnya praktik kolektif dalam perkembangan printmaking saat ini. Karya-karya yang ditampilkan dikembangkan dalam lingkungan studio yang mendorong pertukaran ide dan eksplorasi teknik, menjadikan studio tidak hanya sebagai ruang produksi, tetapi juga sebagai ruang dialog.

“Setelah bertahun-tahun berkarya di printmaking, yang paling terasa bagi saya adalah pentingnya memiliki ruang bagi seniman untuk terus belajar, bereksperimen, dan melanjutkan praktiknya di luar pendidikan formal. Itu menjadi salah satu alasan Devfto hadir, berangkat dari keinginan untuk membangun ruang terbuka bagi printmaking di Bali, di mana proses dapat terus berkembang dan seniman tetap dekat dengan mediumnya,” ujar Devy Ferdianto, Founder Devfto Printmaking Institute.

Baca Juga:   Ribuan Volunteer NTB Siap Sukseskan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 di Mandalika

Melalui Prints in Motion, Labyrinth Art Gallery terus menegaskan perannya dalam menghadirkan pameran yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga mengangkat praktik seni kontemporer melalui proses di baliknya. Pameran ini sekaligus berkontribusi pada lanskap budaya Bali yang semakin terbuka, memungkinkan seniman dan publik untuk berinteraksi dengan seni secara lebih aktif dan reflektif. (BC5)