Perkenalkan Seniman Muda Underrated Bali, Matjan Tour Pameran Tiga Kota di Jawa

0
321
Seniman
Dua dari sejumlah karya seniman Bali yang dihadirkan Matjan ke 3 kota. (ist)

Denpasar, balibercerita.com – 

Mengusung misi memperkenalkan seniman-seniman muda underrated Bali ke tanah seberang, dua seniman muda asal Bali melaksanakan pameran seni di 3 kota di Pulau Jawa yaitu Jakarta, Yogyakarta dan Malang. Event yang bertajuk Program Matjan Ke Seberang 2023 dilaksanakan selama 15, dari tanggal 8 hingga 22 Juli 2023. Selain menampilkan karya-karya terbaiknya, juga ditampilkan talkshow hingga workshop.

Inisiator Matjan, I Dewa Nyoman Ketha Sudhiatmika menerangkan, program Matjan Ke Seberang 2023 merupakan sebuah pilot project dalam upaya untuk mengenalkan seniman-seniman muda underrated Bali ke tanah seberang. Program Matjan Ke Seberang 2023 mengajak seniman dengan karya yang menarik, untuk berkesempatan memamerkan karya-karya mereka pada publik yang lebih luas. Dalam artian bukan tak hanya diperkenalkan di Bali saja, melainkan juga kepada masyarakat luas di luar Bali. Apalagi Bali memiliki daya tarik tersendiri dalam bidang seni hingga budaya yang sudah melekat di hati wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pameran ini mengajak masyarakat melihat Bali melalui perspektif yang berbeda. Para seniman berusaha memvisualkan retaknya imaji kebalian, yang selama ini dianggap utuh dan ajeg tanpa persoalan. Karya-karya mereka juga akan menghadirkan keseharian yang lebih memanusiakan Bali dan persoalan-persoalan yang jarang terungkap. Seperti alih fungsi lahan, banjir yang menjadi salah satu konsekuensi dari alih fungsi lahan, sampah yang dihasilkan dari turisme massal dan gesekan-gesekan lain antarmanusia, atau antara manusia dengan alam. Hal itu sebagai pengingat bahwa Bali perlu dirawat dan diberi perhatian.

Baca Juga:   KLEO Seminyak: Wajah Baru Seminyak dalam Sentuhan Seni, Desain, dan Gaya Hidup

Dalam program ini, para seniman menghadirkan sebuah pameran seni yang berbeda dengan eksplorasi terbaru. Seniman Ardee memanfaatkan sampah-sampah plastik dalam pembuatan karyanya. Pria yang sudah melanglang buana dalam memamerkan karyanya ini, secara garis besar menggunakan proses menyerupai cut and paste dalam proses kolase, namun dengan visual buatan sendiri berbahan plastik bekas yang dipungut dan dikumpulkan sebelumnya.

Sedangkan Gede Sumarjaya menggunakan teknik gum bichromate print yang sudah dikenal sejak abad ke-19. Teknik cetak ini menghasilkan foto yang berbeda, jika dicetak oleh orang yang berbeda meskipun menggunakan negatif yang sama. Umumnya teknik cetak lama menghasilkan gambar monokrom, tapi dengan teknik ini sudah bisa menghasilkan gambar berwarna.

Baca Juga:   Boy Warongan Kembali ke Dunia Musik Lewat Single “Belum Boleh Pulang”

Proses kurasi seniman yang akan mengikuti program ini terbilang cukup ketat, karena harus memenuhi beberapa kriteria umum. Ada beberapa hal yang dipertimbangkan, yakni secara kekaryaan mereka mesti mampu berkomunikasi dengan baik dan juga menghadirkan fase kontemplasi pada saat yang sama. Seniman tersebut juga harus mampu berpikir kritis tanpa meninggalkan irama estetika sebuah karya seni.

Program Matjan Ke Seberang 2023 juga berkolaborasi dengan tiga komunitas yang berada di Jakarta, Yogyakarta dan Malang. Program Matjan Ke Seberang 2023 memulai tour pertamanya di Jakarta yakni di Gudskul Ekosistem, Jakarta Selatan. Gudskul Ekosistem adalah sebuah ekosistem seni rupa kontemporer dibentuk oleh tiga kelompok seni rupa di Jakarta yakni RuangRupa, Serrum, dan Grafis Huru Hara. 

Tiga kolektif ini melibatkan beragam kolektif dari berbagai praktik dan medium artistic, terdiri dari banyak elemen seperti, seniman, kurator, penulis seni rupa, manajer, peneliti, musisi, sutradara, arsitek, tukang masak, penata artistik, desainer, perancang busana, street artist, serta individu-individu dengan keahlian lainnya.

Baca Juga:   Liana Reverie: Dialog Antara Seni, Manusia, dan Alam di Nuanu Creative City

Tour kedua dilaksanakan di Yogyakarta, tepatnya Liberates Creative Colony. Tempat ini merupakan salah satu studio kreatif terpenting di Yogyakarta, yang merancang dan menciptakan solusi berbagai tantangan kreativitas. Tumbuh di lingkungan dengan kekuatan seni, kreativitas, dan kultur yang kuat dan kental. Liberates studio menginisiasi gerakan kreatif yang tumbuh karena kesadaran akan pentingnya berjejaring antar komunitas kreatif. Mereka juga memiliki ruang untuk berbagai kegiatan aktif dan produktif.

Sementara di Malang, mereka mengambil lokasi di Pena Hitam. Pena Hitam merupakan sebuah kolektif illustrator yang terdiri dari anak-anak muda yang dalam aktivitasnya banyak sekali mendukung kreativitas anak muda. Art space yang mereka bangun mewadahi kreativitas anak muda mulai dari lokakarya kesenian sampai pameran seni. 

Chapter atau cabang kreativitas mereka sudah menyebar ke sekitar 28 daerah di seluruh Indonesia. Malang merupakan chapter induk Pena Hitam. Dimulai sejak 12 tahun yang lalu, seluruh chapter secara umum terdesentralisasi dan berdiri secara otonom. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini