balibercerita.com –
Setelah tujuh hari berjibaku dengan ganasnya ombak Pantai Yeh Gangga, tim SAR gabungan akhirnya menghentikan operasi pencarian terhadap I Komang Sastra (12), bocah asal Banjar Jambe Baleran, Desa Dajan Peken, Tabanan, yang hilang terseret arus laut. Hingga operasi resmi ditutup pada Rabu (3/6), keberadaan korban masih belum diketahui.
Korban dilaporkan hilang sejak Kamis (28/5) saat berenang bersama temannya di Pantai Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan. Saat asyik bermain air, korban dihantam ombak besar dan terseret ke tengah laut hingga menghilang dari pandangan.
Berbagai upaya telah dilakukan tim SAR gabungan selama sepekan terakhir. Mulai dari penyisiran darat, pencarian menggunakan rubber boat di laut, pemantauan udara dengan drone thermal, hingga pengerahan helikopter pada hari kelima operasi SAR.
Pada Rabu (3/6), pencarian hari ketujuh kembali melibatkan unsur darat, laut, dan udara. Tim SAR gabungan memulai penyisiran sejak pukul 07.40 Wita dengan melibatkan 26 personel dari berbagai instansi, terdiri atas 7 personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, 7 personel Polairud Polres Tabanan, 4 personel BPBD Kabupaten Tabanan, 8 personel Satbrimob Polda Bali, serta dukungan Bhabinkamtibmas Desa Sudimara.
“Pergerakan hari ini kami kerahkan SRU darat dan SRU laut dan juga SRU udara, menggunakan drone thermal menyisir sepanjang pantai,” ujar Kasi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Wayan Juni Antara.
SRU laut mengoperasikan satu unit rubber boat untuk menyisir area pencarian seluas sekitar 5,56 nautical mile persegi di sekitar lokasi kejadian. Sementara itu, drone thermal diterbangkan ke arah barat Pantai Yeh Gangga hingga radius sekitar 1 kilometer. Tim darat juga melakukan penyisiran sepanjang dua kilometer ke arah barat dan timur pantai.
Di tengah pencarian, pihak keluarga sempat menerima informasi mengenai benda yang terlihat terapung sekitar 200 meter dari bibir pantai. Tim kemudian menerbangkan kembali drone thermal untuk memastikan temuan tersebut. Namun setelah dilakukan pengecekan, benda yang dicurigai itu hanya berupa batang kayu yang terbawa gelombang laut.
Proses pencarian juga diwarnai tantangan berat. Tim SAR harus menghadapi gelombang tinggi dan ombak berlapis yang cukup membahayakan. Rubber boat membutuhkan waktu untuk menembus lapisan ombak besar sebelum dapat mencapai area pencarian yang telah ditentukan.
Meski berbagai metode pencarian telah dilakukan, hingga pukul 13.00 Wita belum ditemukan petunjuk yang mengarah pada keberadaan korban. Setelah berkoordinasi dengan seluruh unsur SAR, aparat setempat, dan pihak keluarga, operasi pencarian akhirnya resmi dihentikan. “Perkembangan operasi SAR hingga hari ketujuh, sampai hari ini operasi SAR kami hentikan karena belum ada tanda-tandanya penemuan korban,” kata Juni Antara.
Ia menegaskan, meskipun operasi SAR telah ditutup, seluruh pihak tetap akan memberikan perhatian apabila di kemudian hari terdapat laporan atau informasi terkait keberadaan korban.
Selama operasi berlangsung, pencarian melibatkan berbagai unsur, diantaranya Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Polairud Polres Tabanan, Brimob Batalyon Kompi B Mengwi, Polsek Tabanan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Sudimara, BPBD Tabanan, PMI Tabanan, ORARI Bali, RAPI Bali, Bhuana Bali Rescue, Dinas Pendidikan Tabanan, Camat Tabanan, perangkat Desa Sudimara, serta pihak keluarga korban. (BC5)



















