balibercerita.com –
Upaya menjaga lingkungan kini dinilai tidak cukup hanya dengan mempertahankan kondisi yang ada. Dibutuhkan langkah yang lebih progresif melalui pendekatan regeneratif, yakni memperbaiki dan memulihkan kondisi lingkungan agar dapat diwariskan dalam keadaan yang lebih baik kepada generasi mendatang.
Semangat tersebut menjadi landasan utama penyelenggaraan Path to Sustainable Growth (PTSG) 2026 yang akan digelar oleh The Apurva Kempinski Bali pada 24 Juni 2026. Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, forum tahunan ini mengusung tema “Regenerate for the Future”, yang menekankan pentingnya menciptakan dampak positif berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan generasi muda.
Director of Hygiene, Safety and Sustainability The Apurva Kempinski Bali, Desak Intan menjelaskan bahwa konsep regeneratif dipilih karena tantangan lingkungan saat ini tidak hanya membutuhkan upaya pelestarian, tetapi juga pemulihan terhadap berbagai kerusakan yang telah terjadi. “Kalau sustainability lebih kepada menjaga apa yang sudah ada, regeneratif adalah bagaimana membuat sesuatu menjadi lebih baik untuk generasi berikutnya. Kalau sesuatu sudah rusak, tentu tidak bisa hanya dipertahankan, tetapi harus diperbaiki,” ujarnya, Rabu (10/6).
Menurutnya, regenerasi menjadi langkah penting dalam menjawab berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, pengurangan emisi karbon, hingga perlindungan ekosistem dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan tahun ini adalah Seeds of Change Program, sebuah program inkubasi yang ditujukan bagi mahasiswa dan startup tahap awal yang memiliki ketertarikan terhadap isu keberlanjutan.
PR & Marketing Manager The Apurva Kempinski Bali, Charles Octoriano mengatakan bahwa program tersebut dirancang untuk melahirkan agen perubahan baru yang mampu membawa gagasan keberlanjutan ke berbagai sektor, baik di industri pariwisata maupun non-pariwisata. “Kami ingin generasi muda menjadi penerus ide-ide besar sustainability. Tidak hanya hadir dalam forum diskusi, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata yang berdampak bagi masa depan,” kata Charles.
Saat ini, sebanyak 20 peserta telah mendaftar dalam program tersebut. Para peserta nantinya akan mendapatkan pendampingan intensif dari para ahli dan praktisi selama beberapa minggu untuk mengembangkan ide menjadi model bisnis atau program yang memiliki dampak sosial dan lingkungan yang terukur.
Charles menegaskan, tujuan besar yang ingin dicapai The Apurva Kempinski Bali adalah menjadi motor penggerak keberlanjutan di sektor hospitality sekaligus mengedukasi masyarakat luas mengenai pentingnya aksi nyata terhadap lingkungan. “Kami tidak hanya ingin berbicara tentang sustainability, tetapi juga mengedukasi, menginspirasi, dan memengaruhi lebih banyak orang untuk terlibat. Ketika semakin banyak pihak bergerak bersama, maka kami tahu bahwa langkah yang kami lakukan berada di jalur yang benar,” ujarnya.
Dalam konferensi yang berlangsung sehari penuh tersebut, sebanyak 16 pembicara dari berbagai latar belakang akan hadir untuk membahas empat pilar utama, yakni pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, regenerasi industri dan teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan.
Selain mengangkat isu lingkungan, The Apurva Kempinski Bali juga terus mengintegrasikan aspek pelestarian budaya dalam strategi keberlanjutannya melalui kampanye Spice Route Legacy. Program ini tidak hanya berfokus pada konservasi alam, tetapi juga menjaga dan memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada para tamu.
Berbagai inisiatif keberlanjutan juga terus dijalankan hotel tersebut, mulai dari program penanaman mangrove, edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat, penghitungan emisi karbon secara berkala, hingga program pertanian berkelanjutan bersama petani di Karangasem. Menurut Intan, seluruh program tersebut merupakan bagian dari target jangka panjang perusahaan untuk mencapai karbon netral pada tahun 2030.
Untuk memastikan target tersebut tercapai, pihak hotel secara rutin melakukan penghitungan emisi karbon dan evaluasi terhadap berbagai program yang telah berjalan. “Setiap tahun kami melakukan analisa untuk melihat sejauh mana dampak positif yang dihasilkan. Sustainability adalah sebuah perjalanan panjang, sehingga perlu konsistensi dan perbaikan berkelanjutan,” jelasnya.
Meski mengakui masih terdapat tantangan dalam menyamakan persepsi berbagai pemangku kepentingan dan mencari inisiatif yang paling sesuai dengan kebutuhan hotel, pihaknya optimistis progres yang dicapai selama empat tahun terakhir menunjukkan arah yang positif. “Kami melihat perkembangan yang nyata dibandingkan empat tahun lalu. Tantangannya adalah menjaga konsistensi agar program-program ini tetap berjalan, meskipun tidak selalu mendapat sorotan,” katanya.
Melalui Path to Sustainable Growth 2026, The Apurva Kempinski Bali berharap dapat menjadi pusat kolaborasi berbagai pihak yang memiliki visi yang sama dalam menciptakan masa depan yang lebih baik. “Gerakan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dari dunia pendidikan, pemerintah, industri, komunitas, hingga generasi muda agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan,” tutup Intan. (BC5)


















