balibercerita.com –
ITDC Nusantara Utilitas terus memperkuat komitmen keberlanjutan di kawasan The Nusa Dua melalui pengembangan fasilitas sea water reverse osmosis (SWRO) yang terintegrasi dengan pemanfaatan energi surya. Fasilitas ini menjadi langkah strategis dalam menjawab kebutuhan air bersih sekaligus menekan ketergantungan terhadap energi fosil.
Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas, AA Istri Ratna Dewi menjelaskan bahwa bangunan SWRO berada di area Lagoon sisi utara dan dilengkapi dengan reservoir penampungan air laut. Di atas bangunan tersebut terpasang panel surya, sebagaimana hampir seluruh bangunan di kawasan ini, yang disesuaikan dengan kapasitas maksimal atap masing-masing bangunan. Energi listrik dari panel surya tersebut dikoneksikan langsung untuk mendukung operasional fasilitas.
Air laut yang diolah berasal dari titik intake Pantai Samuh yang berada di depan kawasan Club Med. Intake ini berfungsi sebagai sumber pengambilan air laut yang dilengkapi rumah pompa untuk mengalirkan air menuju bangunan SWRO di kawasan Lagoon. Sebelum diproses lebih lanjut, air laut ditampung terlebih dahulu di sebuah raw water tank berupa tangki beton besar. Penampungan awal ini berfungsi untuk mengendapkan pasir dan kotoran yang terbawa dari laut.
Dari raw water tank, air laut dialirkan ke sistem pre-treatment menggunakan filter, kemudian masuk ke equalization tank sebelum akhirnya diproses melalui membran reverse osmosis. Deretan pipa putih panjang yang terlihat di fasilitas tersebut merupakan membran SWRO.
Melalui proses ini, air laut dengan kadar Total Dissolved Solids (TDS) sekitar 45.000 ppm disaring hingga mencapai 300 ppm, sesuai standar Peraturan Menteri Kesehatan untuk air minum. “SWRO inilah yang berfungsi menurunkan tingkat keasinan air laut hingga menjadi air tawar yang layak minum,” jelas AA Istri Ratna Dewi pada Sabtu (24/1).
Sebagai kawasan pariwisata internasional, keandalan layanan menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, sistem kelistrikan di fasilitas intake maupun bangunan SWRO dilengkapi dengan backup genset. Ketika terjadi gangguan listrik, operasional tetap berjalan tanpa henti. Selain itu, penggunaan panel surya menjadi strategi penting karena konsumsi listrik merupakan komponen terbesar dalam operasional SWRO.
ITDC juga memanfaatkan potensi kawasan Lagoon yang memiliki luas basah sekitar 16 hektare, dengan total luas mencapai 20 hektare. Secara teoritis, setiap satu hektare lahan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sekitar satu megawatt listrik tenaga surya. Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan regulasi terkait floating solar panel, yang membuka peluang pemanfaatan permukaan laguna untuk pembangkit listrik tenaga surya terapung.
“Jika regulasinya sudah ada, kami bisa menambah kapasitas solar panel. Bahkan, tidak menutup kemungkinan 100 persen kebutuhan listrik di sini berasal dari energi surya, sehingga benar-benar non-fossil,” ujarnya.
Konsep tersebut dirancang dengan pertimbangan bisnis yang matang. Menurutnya, jika biaya produksi air terlalu mahal, maka air tidak akan kompetitif dan sulit terserap pasar. Karena itu, penggunaan energi non-fosil dan pemanfaatan air laut yang ketersediaannya tidak terbatas menjadi kunci utama desain sistem ini.
Meski demikian, proyek ini tidak lepas dari tantangan. Sebagai proyek pertama di Indonesia yang mengambil air laut langsung dari laut untuk kebutuhan air minum, tantangan terbesar terletak pada aspek regulasi. Proses perizinan memerlukan kajian mendalam dan tahapan yang panjang.
Namun, ITDC telah melakukan berbagai persiapan jauh sebelum proses tender dimulai. Salah satunya adalah kajian arus laut dengan time series selama sekitar satu tahun untuk menganalisis pasang surut dan menentukan lokasi intake yang paling aman dan tepat.
Sebagai BUMN dan agent of development, ITDC menegaskan bahwa setiap pembangunan harus mematuhi seluruh peraturan yang berlaku. Perizinan melibatkan berbagai instansi, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Lingkungan Hidup. ITDC tidak akan mengoperasikan fasilitas tanpa legalitas yang lengkap, sejalan dengan standar tinggi yang diterapkan InJourney.
Tantangan lainnya berasal dari sisi teknologi dan biaya. Namun, perkembangan teknologi SWRO yang semakin efisien, ditambah pemanfaatan panel surya, mampu menekan konsumsi energi dan biaya operasional. Dari sisi sumber daya manusia, operator fasilitas dinilai telah mampu menjalankan sistem dengan baik. Fasilitas ini juga berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), sehingga aspek lingkungan menjadi perhatian utama.
ITDC secara berkala melakukan pemantauan dan pelaporan, termasuk terhadap populasi burung dan ekosistem sekitar. Penurunan populasi burung sempat terjadi akibat aktivitas pembangunan, namun ITDC optimistis populasi tersebut akan kembali meningkat seiring pemulihan lingkungan.
Saat ini, kontribusi PLTS atap masih sekitar 200 kilowatt atau sekitar 10 persen dari total kebutuhan listrik. ITDC berharap pengembangan floating solar panel dapat segera direalisasikan setelah regulasi ditetapkan secara jelas.
Atas inovasi tersebut, ITDC tercatat sebagai pihak pertama yang menerima lisensi SWRO dari KKP dengan model bisnis yang dinilai sebagai terobosan. Inisiatif ini selaras dengan komitmen keberlanjutan di kawasan The Nusa Dua yang memiliki ruang terbuka hijau seluas 35,61 hektare, dengan potensi serapan karbon mencapai 6.306,9 ton CO₂ ekuivalen.
Kawasan The Nusa Dua juga menjadi habitat bagi 137 jenis biodiversitas, terdiri atas 66 flora dan 71 fauna, yang menegaskan kawasan ini sebagai kawasan yang sehat dan berkelanjutan. ITDC terus menjaga penghijauan dan keberlanjutan kawasan agar tetap mampu menyerap emisi karbon sekaligus mendukung pengembangan pariwisata ramah lingkungan. (BC5)














