balibercerita.com –
Suhu udara di Bali belakangan ini terasa berbeda. Dalam beberapa hari terakhir, warga Pulau Dewata merasakan hawa panas, khususnya pada siang hari, seolah terik matahari menempel di kulit lebih lama dari biasanya.
Menurut catatan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, suhu maksimum di sejumlah wilayah Bali mencapai 34 derajat Celsius. Fenomena ini bukan karena musim kemarau yang belum berakhir, melainkan karena gerak semu matahari dan embusan massa udara kering dari Benua Australia yang masih bertiup dari arah selatan.
Prakirawan cuaca BBMKG Denpasar, Wulan Wandarana menjelaskan bahwa kondisi ini sebenarnya normal terjadi setiap tahun. Saat matahari berada di sekitar garis khatulistiwa dan mulai bergerak ke belahan bumi selatan, intensitas sinarnya ke wilayah Bali meningkat tajam. “Rata-rata suhu maksimum saat ini berkisar antara 32 hingga 34 derajat Celsius, dengan suhu minimum sekitar 24 hingga 26 derajat,” jelas Wulan.
Namun, bukan hanya sinar matahari yang membuat hari terasa menyengat. Angin timuran membawa udara panas dan kering dari Australia, sementara kelembapan udara yang tinggi membuat tubuh sulit beradaptasi. Keringat tak cepat menguap, membuat rasa gerah semakin pekat.
Masyarakat Bali pun merasakannya dalam aktivitas sehari-hari, dari pedagang di pasar, pekerja di lapangan, hingga wisatawan yang berjemur di pantai. BBMKG memperkirakan kondisi panas dan lembap ini masih akan bertahan hingga awal November, sebelum hujan mulai sering turun dan udara kembali sejuk. Saat ini Bali memang sedang berada di masa peralihan musim kemarau ke musim hujan, periode yang dikenal dengan cuaca tak menentu, kadang terik menyengat, kadang hujan turun mendadak.
Wulan mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan tubuh selama cuaca ekstrem ini berlangsung. “Perbanyak asupan cairan dan hindari aktivitas berat di luar ruangan saat siang hari. Jangan lupa selalu memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG,” pesannya. (BC5)



















