Rupiah Amblas ke Level Rp18.000 per Dolar AS, Angin Segar yang Bikin PMI Sumringah

0
37
Rupiah
Ilustrasi mata uang rupiah. (ist)

balibercerita.com –
Nilai tukar rupiah dilaporkan kembali melemah hingga menyentuh rekor baru di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Sisi lain dari merosotnya mata uang rupiah ini justru membawa dampak positif bagi sejumlah sektor, mulai dari pariwisata hingga pekerja migran Indonesia (PMI) asal Bali yang bekerja di luar negeri.

​Bagi wisatawan mancanegara (wisman) serta masyarakat lokal yang menyimpan aset dalam bentuk mata uang asing, lonjakan ini laksana angin segar karena menjanjikan keuntungan konversi yang besar. Dampak positif ini juga dirasakan langsung oleh para eksportir, pelaku industri pariwisata, serta pengusaha jasa penukaran uang (money changer).

Baca Juga:   Karakter Ekonomi Beda, Tabanan dan Badung Catat Tingkat Pengangguran Terbuka Hampir Setara pada 2025

​Tidak hanya di dalam negeri, keuntungan besar ini turut mengalir ke kantong para pekerja migran. Guru Besar Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M., menjelaskan bahwa PMI menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan karena nilai remitansi atau pengiriman uang ke kampung halaman otomatis melonjak.

Baca Juga:   Sikapi Persaingan Tak Sehat, BVRMA Dorong Penerapan Klasifikasi Vila Berbintang

​”Yang diuntungkan dari melemahnya rupiah ini salah satunya adalah para pekerja migran Indonesia. Kalau dulu mereka mengirim uang dengan kurs lama, misalnya mengirim 1.000 dolar AS, jika dikonversi mungkin nilainya sekitar Rp15 juta. Sedangkan untuk saat ini, dengan kurs yang menyentuh Rp18.000, PMI yang mengirimkan uangnya ke Indonesia akan mendapatkan jumlah rupiah yang jauh lebih banyak,” ujar Prof. Raka Suardana saat dihubungi, Kamis (4/6).

Baca Juga:   Kartini Muda di Tabanan Pilih Bertani, Kembangkan Usaha dengan Sentuhan Digital BRImo

​Meskipun fenomena ini mendatangkan keuntungan instan bagi sektor-sektor tertentu, Prof. Raka Suardana mengingatkan pemerintah dan otoritas moneter agar tidak lengah. Menurutnya, pelemahan nilai tukar yang terlalu dalam memiliki efek domino yang berbahaya bagi perekonomian makro.

​”Meski demikian, melemahnya nilai tukar rupiah ini tetap perlu diwaspadai secara ketat agar tidak memicu lonjakan harga barang baku atau menimbulkan inflasi ekstrem di masyarakat,” tegasnya. (BC18)