balibercerita.com –
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung terus menggenjot berbagai langkah untuk mengatasi permasalahan air bersih di wilayah Badung Selatan. Mulai dari penambahan jaringan perpipaan hingga rencana pemanfaatan teknologi pengolahan air laut. Upaya ini ditargetkan rampung pada akhir 2025.
Hal tersebut disampaikan Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, Selasa (9/9). Ia menegaskan, kebutuhan air bersih masyarakat harus segera terpenuhi, sehingga pemerintah menyiapkan langkah jangka pendek maupun jangka panjang.
“Terkait masalah air di Kuta Selatan, saya sudah berproses, mudah-mudahan akhir tahun ini air ke bukit lancar. Sebab, sekarang saya telah menambah jaringan yang sebelumnya air yang dibawa ke bukit dialirkan ke Nusa Dua dulu, sekarang sudah dipotong dibuatkan khusus ke Nusa Dua, dan jaringan yang ke Pecatu khusus,” ujar Adi Arnawa.
Selain itu, Pemkab Badung juga sedang menyiapkan teknologi sea water reverse osmosis (SWRO) atau pengolahan air laut menjadi air minum. Teknologi ini dipandang mampu menjawab kebutuhan jangka panjang di kawasan pariwisata Badung Selatan yang terus berkembang pesat.
“Tidak cukup air permukaan karena pembangunan masif. Namun, saya sudah perintahkan PDAM untuk SRWO, dimana air laut diubah menjadi air minum,” ungkapnya.
Adi Arnawa menjelaskan, air hasil SWRO nantinya difokuskan untuk mendukung kebutuhan akomodasi pariwisata, seperti hotel, restoran, dan bandara. Sedangkan air permukaan tetap diprioritaskan bagi kebutuhan masyarakat dengan harga lebih murah.
“Untuk memenuhi kebutuhan di Badung Selatan karena pembangunan masif, saya sudah perintahkan PDAM untuk segera melakukan diversifikasi air minum SRWO untuk memenuhi kebutuhan hotel dan bandara. Untuk air permukaan khusus untuk masyarakat karena harganya lebih murah,” jelasnya.
Melalui langkah ini, ia juga membuka peluang adanya sistem subsidi silang. Air permukaan tetap bisa disalurkan ke rumah tangga dengan tarif terjangkau, sementara biaya desalinasi yang lebih tinggi dialokasikan untuk sektor komersial.
“Dengan biaya pengolahan sekitar Rp30.000 per meter kubik, desalinasi lebih mahal dibandingkan sumber air permukaan. Namun, jika difokuskan untuk sektor komersial seperti hotel, bandara, dan restoran, maka beban tarif tidak akan memberatkan masyarakat,” terang mantan Sekda Badung tersebut.
Lebih lanjut, bupati asal Pecatu ini menegaskan bahwa meski lebih mahal, teknologi pengolahan air laut memiliki ketersediaan yang tidak terbatas. Hal ini akan menjadi solusi jangka panjang untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan air seiring pesatnya pembangunan di Badung Selatan.
“Lebih baik kita berinvestasi sedikit lebih mahal daripada nantinya kekurangan air. Potensi Badung sangat besar, apalagi dengan pembangunan infrastruktur yang masif. Otomatis kebutuhan air akan terus meningkat, dan kita harus siap mengantisipasi,” imbuhnya. (BC9)



















