Parade Hujan, Berpesta Dalam Setiap Hujan Keberkahan

0
401
Parade Hujan. (BC5)
Parade Hujan

Denpasar, balibercerita.com – 

Panggung Singaraja Festival 2023 yang dilaksanakan di Keramas Aeropark, 27 Mei 2023 menjadi kali pertama Parade Hujan tampil di Bali. Band alternatif/indie beraliran fusi antara folk, keroncong dan jazz ini merupakan rumah baru para personel Payung Teduh yang sempat berpisah di tahun 2017. Saat itu, sang vokalis mundur karena merasa sudah tidak lagi sejalan dengan band tersebut, hingga membentuk project solois Pusakata.

“Pertama manggung di Bali pascagabung kembali di Parade Hujan, ya baru kali ini. Seneng bisa manggung bareng lagi. Terakhir manggung di Bali pada saat Soundrenaline, itu sebelum pandemi dan sebagai Pusakata. Sebagai Payung Teduh, itu terakhir di GWK tahun 2016,” ucap sang vokalis, Mohammad Istiqamah alias Is.

Baca Juga:   Warung Meating Jimbaran: Kuliner Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima

Tampil di Bali, selalu membawa suasana yang adem dan asyik bagi Parade Hujan. Band beranggotakan Istiqamah pada gitar & vokal, Comi Aziz pada contra bass, Ivan Penwyn pada gitar & terompet, dan Alejandro Saksakame pada drum ini mengaku selalu menikmati suasana Bali yang selalu membawa soul tersendiri. 

Setelah bergabung kembali dalam Parade Hujan, mereka menelurkan sebuah single berjudul Datang. Ke depan, setiap 2-3 bulan mereka akan merilis single baru. Mimpi besar mereka adalah dapat merilis full album tahun depan. Mereka ingin lebih produktif dari nama Payung Teduh yang terbentuk pada akhir 2007. Saat itu mereka berhasil mengeluarkan 4 album, yaitu Dunia Batas di tahun 2012, Live and Loud di tahun 2016, Ruang Tunggu di tahun 2017 dan Mendengar Suara pada tahun 2018.

Baca Juga:   The Suaka Baliaga, Rekomendasi Vila Mewah Bernuansa Tropis di Tengah Gemerlap Seminyak

Kembali bergabung dan bereuni dalam rumah Parade Hujan merupakan suatu tantangan bagi mereka. Selama ini, Is melalui Pusakata telah menelurkan 2 buah album yaitu Dua Buku di tahun 2019 dan Mesin Waktu di tahun 2020. Sedangkan Payung Teduh menelurkan album Mendengar Suara. “Payung Teduh tidak pernah hilang, Pusakata juga buat entitas baru. Jadi tidak ada yang berhenti berkarya dari kami,” terangnya.

Bersatunya kembali para personel diakui merupakan sebuah fase pendewasaan dan pelepasan ego yang disingkirkan demi musik. Sebab musik bagi mereka kini di atas segala-galanya dan itu mengalir begitu saja. Seiring berubahnya warna rambut, semua, ego yang kekanak-kanakan disingkirkan dahulu. 

Begitu pula dengan rumah mereka yang kini berganti dari Payung Teduh menjadi Parade Hujan. Hal itu mengalir begitu saja atas kesepakatan bersama. Penggantian nama itu diputuskan pada September 2022 dan menjadi suatu lembaran baru bagi mereka untuk berkarya di dunia musik tanah air. Mereka percaya perubahan nama itu tidak akan berpengaruh, karena pada dasarnya yang lebih besar menurut mereka adalah lagu itu sendiri bukan pada nama band.

Baca Juga:   Sejarah dan Daya Tarik Havaianas, Sandal Yang Digandrungi Dunia

Bagi mereka, hujan merupakan sebuah berkah sehingga mereka akan selalu berparade dalam setiap hujan. Melalui hujan, mereka mengungkapkan syukur dapat kembali bersama-sama untuk merayakan keberkahan. “Kita nikmati kebersamaan itu. Kita mungkin orang yang akan selalu berpesta di setiap hujan dalam tanda kutip keberkahan,” tegasnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini