balibercerita.com –
Fluktuasi harga emas dan menguatnya dolar Amerika Serikat belum banyak memengaruhi minat masyarakat untuk membeli perhiasan maupun emas sebagai instrumen investasi. Di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis, konsumen justru dinilai semakin cerdas dalam mengelola keuangan dengan memilih aset yang memiliki nilai jangka panjang.
General Manager The Palace Jeweler, Jelita Setifa menjelaskan bahwa pergerakan harga emas dan dolar pada dasarnya saling berlawanan. Ketika dolar menguat, harga emas dunia cenderung melemah, begitu pula sebaliknya. “Kalau dolar menguat, biasanya emas turun. Sebaliknya saat emas melonjak, dolar cenderung melemah. Namun di Indonesia dampaknya terasa dari dua sisi sekaligus karena harga emas tetap mengacu pada dolar AS yang berubah setiap hari,” ujarnya.
Menurut Jelita, kondisi tersebut membuat masyarakat Indonesia berada dalam posisi yang unik. Saat harga emas dunia turun, nilai tukar dolar justru sering menguat terhadap rupiah sehingga harga emas di dalam negeri tidak serta-merta menjadi jauh lebih murah. “Emasnya mungkin sedang turun, tapi dolarnya naik. Jadi dampaknya bagi konsumen Indonesia kurang lebih tetap sama,” katanya.
Meski demikian, ia melihat sebagian besar pelanggan saat ini merupakan investor yang cukup bijak dalam mengelola pengeluaran. Daripada menghabiskan dana untuk barang konsumtif yang nilainya terus menyusut, banyak masyarakat memilih membeli emas atau perhiasan yang masih memiliki nilai jual kembali. “Pelanggan kami berpikir, daripada membeli barang yang nilainya habis dipakai, lebih baik membeli perhiasan yang bisa digunakan, dinikmati, dan suatu saat bisa dijual kembali atau ditukar tambah,” jelasnya.
Jelita menilai perilaku konsumen perhiasan juga berbeda dengan pembeli produk gaya hidup lainnya. Banyak pelanggan yang sudah memiliki alokasi anggaran rutin setiap bulan khusus untuk membeli emas, terlepas dari kondisi harga yang sedang naik maupun turun. “Ada konsumen yang setiap bulan memang konsisten menyisihkan uang dua sampai tiga juta rupiah untuk membeli emas. Jadi bukan karena harga sedang naik atau turun, tetapi karena sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan perencanaan keuangan mereka,” ungkapnya.
Terkait melemahnya rupiah belakangan ini, Jelita mengakui kondisi tersebut memang memberikan tantangan tersendiri. Di satu sisi harga emas dunia bisa saja turun, tetapi di sisi lain dolar yang menguat membuat harga emas di pasar domestik tetap tinggi. “Kalau emas lagi murah memang menarik untuk dibeli, tetapi kita tetap harus membayarnya dengan acuan dolar yang sedang tinggi. Jadi memang ada tantangan tersendiri bagi pasar di Indonesia,” katanya.
Meski demikian, ia optimistis minat masyarakat terhadap perhiasan tetap terjaga. Edukasi yang semakin baik mengenai nilai investasi emas membuat konsumen tidak lagi sekadar melihat perhiasan sebagai aksesori, tetapi juga sebagai aset. “Kalau ditanya tren saat ini, saya melihat minat masyarakat cukup stabil. Bahkan semakin banyak orang yang memahami bahwa perhiasan bukan hanya untuk dipakai, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan di masa depan,” ujar Jelita.
Pertumbuhan industri perhiasan saat ini juga didorong oleh hadirnya koleksi-koleksi baru yang membuat konsumen terus memiliki alasan untuk berbelanja. “Yang penting bagi kami adalah terus menghadirkan inovasi dan desain baru. Dengan begitu konsumen tetap tertarik dan industri perhiasan bisa terus bertumbuh,” pungkasnya. (BC5)


















