Mempertanyakan Ajakan Kembali ke Weda

0
391

Pada intinya, agama Hindu sangat egaliter, bersifat universal, bahkan nasionalisme juga ada di dalamnya. Namun, nilai-nilai tersebut mulai direduksi, disempitkan, dikerdilkan oleh kuasa wacana tertentu. Akibatnya, muncullah new age religion. Maka sekarang ini di Bali, umat Hindu harus berpikir sekian kali, apakah akan berganti ideologi, misalnya dengan mengadopsi penuh Hindu ala India. Walaupun sama Hindu payungnya, tentu akan ada konsekuensi yakni terjadinya dekonstruksi luar biasa pada tata pikir, tata sarana dan tata laku Hindu di Bali. 

Baca Juga:   Terpikat Pesona Wisata Lembah Tanah Wuk

Hal senada disampaikan penekun lontar, I Ketut Sudarsana. Ia menyebut, sesungguhnya lontar-lontar di Bali adalah petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) Weda. Contohnya lontar panestian atau pangleakan, itu sumbernya dari Atharwa Weda. Mengapa dibuatkan juklak dan juknisnya oleh leluhur? Tiada lain, untuk membumikan kitab suci Weda di Bali. “Karena Weda yang asli dalam bahasa Sansekerta kan sulit dipelajari karena bahasa orang lain. Maka dibuatlah dalam bentuk bahasa Jawa Kuno atau aksara Bali,” katanya. 

Baca Juga:   Usung Tema Atma Kerthi, PKB Tabanan 2026 Disambut Antusiasme Warga

Lontar panestian juga bukan jelek, karena memuat cara mencapai kesempurnaan hakiki. Lagi-lagi, ini adalah tujuan mempelajari Weda. Bahkan dalam lontar juga sudah ada peringatan jika melakukan hal buruk akan ada konsekuensinya, demikian sebaliknya. Hal yang mengakibatkan citra lontar panestian buruk justru ada di manusianya. Jika seseorang memiliki pikiran buruk, maka ilmu pengetahuan dalam lontar tersebut akan disalahgunakan untuk hal jahat. (BC13) 

Baca Juga:   Mangku Sudarsana Kombinasikan Pengobatan Tradisional Dengan Modern

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini