Gianyar, balibercerita.com –
Belakangan ini kerap muncul wacana agar umat Hindu kembali ke Weda. Ada beragam alasan yang disampaikan seperti ketidaksesuaian dari sisi filosofis, praktik upacara hingga urusan upakara. Alhasil, tak sedikit umat Hindu di Bali yang akhirnya bimbang. Bahkan, ada pula kehilangan kepercayaan diri dalam menjalankan praktik keagamaan yang merupakan warisan leluhur orang Bali.
Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda dari Griya Mumbul Sari, Serongga, memaparkan pandangannya mengenai acuan kitab suci umat Hindu di Bali yang sejatinya adalah Weda. Dalam sebuah wawancara dengan Bali Bercerita, ia menyampaikan, menjustifikasi atau bahkan menyalahkan pola perkembangan agama Hindu di suatu daerah bukanlah hal baik. Sebab pada dasarnya, saling menyalahkan tidak dibenarkan dalam ajaran agama itu sendiri. Untuk melihat lebih jelas sumber ajaran agama Hindu yang berkembang di Bali, banyak aspek harus dicermati dan dipahami.
Berbicara dari sisi karakteristik, agama Hindu bersifat sanatana dan nutana. Sanatana menyangkut spirit dan nilai yang kekal. Dalam artian, di mana pun dan zaman apapun Hindu berada, spiritnya pasti sama yakni memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Sementara nutana berarti harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini, praktik keagamaan diharapkan tidak sampai memberatkan umat sehingga dapat menggerus keyakinan umat itu sendiri.














