Berawal Dari Pawisik, Mangku Sudarsana Mulai Memijat Tradisional Sejak Umur 8 Tahun

Mangku Ketut Sudarsana
Mangku Ketut Sudarsana (BC)

Karangasem, balibercerita.com-

Mangku Ketut Sudarsana, mungkin sudah tidak asing lagi terdengar bagi sebagian masyarakat Bali. Pria yang tinggal di depan Pura Dalem Puri, Desa Besakih ini dikenal sebagai salah seorang penekun pengobatan atau usada Bali berupa pijat tradisional yang telah tersohor sampai ke luar negeri. Berkat kemampuan yang ia miliki secara turun-temurun, pria asal Desa Paksa Bali, Klungkung itu memiliki pasien dari berbagai negara. Mereka datang berobat saat yang bersangkutan berada di Bali.

 

Kepada Bali Bercerita, pria berumur 41 tahun ini menuturkan, ia mengobati pasien sejak umur 8 tahun atau saat duduk di kelas 2 Sekolah Rakyat (sekarang SD). Kemampuan itu muncul secara tiba-tiba dan dalam situasi tak disengaja. Pada tahun 1960, ayahnya yang merupakan balian usada sering ke luar Bali. Saat itulah ia didatangi oleh seorang laki-laki yang meminta diobati karena patah tulang akibat terjatuh saat memanjat pohon nira. Merasa tidak bisa mengobati dan ayahnya tidak di rumah, ia mengaku kaget dihadapkan dengan situasi seperti itu.

 

Namun, atas adanya wahyu atau pawisik yang didapatnya, ia kemudian mencoba memijat pasien pertamanya itu. Ternyata, pengobatannya ampuh. Hal itu terbukti dengan sembuhnya pasien tersebut, setelah mendapatkan penanganan dari Sudarsana cilik.

 

“Saat itu, saya seolah mendengar adanya bisikan dari telinga. Saya disuruh untuk mencoba mengobati dengan menyentuh-nyentuh saja. Ternyata yang bersangkutan sembuh,” ungkapnya sambil tertawa kecil.

 

Setelah kejadian itu, ia mengaku tidak pernah lagi mencoba melakukan praktik pengobatan. Sebab, ia sering berpindah sekolah hingga di beberapa kabupaten di Bali, karena saat itu terjadi kekacauan situasi akibat adanya G30S PKI.

 

Dengan semangat pantang menyerah, pada tahun 1967, ia kemudian berhasil menamatkan pendidikannya di Negara, Jembrana. Setelah itu, memutuskan kembali pulang kampung ke Klungkung dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP). Saat itu, ia kemudian kembali menekuni usada sambil bekerja serabutan.

 

Singkat cerita, di tahun 1973, ia berhasil menamatkan pendidikannya di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Ia kembali vakum dari dunia usada karena ia diterima bekerja di Bank Rakyat Indonesia (BRI) kantor cabang Buleleng.

 

Seolah suratan takdir, ia justru mengundurkan diri dari tempat ia bekerja, karena sakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Berbagai pengobatan sudah ia coba tempuh selama 5 tahun, namun tidak kunjung menunjukkan hasil. Karena kondisi itulah, ia kemudian kembali pulang kampung dan menjalani pengobatan di rumah. “Saat itu saya seolah mati rasa, cuma leher ke bagian kepala yang berasa sehat. Dari sana saya ada feeling untuk memohon tirta di sasuhunan. Karena merasa enakan, saya berjanji untuk berhenti bekerja dan akan ngayah menjalankan usada,” paparnya.

 

Mengetahui ia telah sembuh, pimpinan tempatnya bekerja mengaku sempat meminta ia untuk bisa kembali bekerja. Namun karena sudah berjanji kepada sasuhunan, ia mengaku menolak tawaran tersebut dan tetap ngayah menjalankan usada. Pada tahun 1979, ia kemudian ngaturang ayah di Pura Besakih, serangkaian Karya Eka Dasa Ludra. Saat ia ngayah di Pura Catur Lawa Ida Ratu Dukuh Segening, ia akhirnya bertemu jodoh dengan seorang gadis asal Desa Besakih. Pada tahun 1980, ia kemudian mempersunting pujaan hatinya tersebut dan memutuskan menetap di Besakih.

 

“Awalnya saya tinggal di Besakih itu ngerob (numpang) di mertua. Itu cukup lama, selama 10 tahun. Setelah mertua meninggal, saya bersama keluarga pindah mendirikan rumah di sini (Besakih),” sebut pria yang memiliki 3 anak dan 8 cucu ini. (BC5)

Baca Juga:   Wujud Bhakti Kepada Leluhur, Desa Adat Jumpeng Gelar Upacara Pitra Yadnya 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini