Mempertanyakan Ajakan Kembali ke Weda

0
391

Agar lebih mudah dipahami, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda yang juga akademisi ini menjabarkannya dengan bahasa lebih mudah melalui akronim HINDU (Humanity, Individuality, Nationality, Divine dan Universality). Dari perspektif Humanity atau kemanusiaan, Hindu harus hadir untuk memanusiakan manusia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Unsur Humanity sendiri tak terlepas dari aspek Individuality. Secara individu, ada Atman dalam diri manusia, bahkan setiap makhluk.  

Kemudian, menyoal Nationality atau kebangsaan. Hindu ada di wilayah Nusantara, yang itu berarti harus punya identitas ke-Nusantaraan. Jangan sampai umat Hindu di Nusantara khususnya di Bali teralienasi atau terasing dari sistem budaya nasional. Pernyataan Ida Pandita ini sama halnya dengan yang ditekankan Proklamator sekaligus Presiden pertama RI, Bung Karno “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab. Kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat-budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Baca Juga:   Kisah Mantan Pengguna Narkoba Jadi Penekun Spiritual

Berikutnya Divinity atau Ketuhanan. Causa prima manusia adalah Tuhan, causa finalis pun juga Tuhan. Maka dalam prosesnya atau causa efisien-nya haruslah benar. “Berproses kita harus benar. Maka, kita tidak bisa klaim kebenaran sepihak,” ujarnya. 

Terakhir, Universality atau nilai universal. Ketika menurunkan nilai-nilai Weda menjadi tata pikir, tata laku dan tata sarana di Nusantara, para leluhur sudah sangat bijaksana. Kala itu, perubahan besar terjadi di Nusantara melalui proyek besar Raja Sri Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur pada abad ke-10 yakni “Mangjawaken Byasa mata, Mangjawaken Wedamata”. Ini adalah proyek menerjemahkan kitab suci atau kesusastraan India ke dalam bahasa Jawa. Tujuannya tiada lain, membumikan kitab suci Weda. Weda yang bersifat spirit atau tata nilai harus dibumikan menjadi tata pikir. Tata pikir dibuat sesuai ke-Nusantara-an, sehingga kita tidak penting lagi membicarakan kitab sucinya dari mana, karena yang terpenting justru nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 

Baca Juga:   Terpikat Pesona Wisata Lembah Tanah Wuk

“Sebab ketika kita kembali ke kitab suci Weda, pertanyaan kita, apakah lontar-lontar sastra di Bali tidak bersumber dari Weda? Ini semua bersumber dari Weda. Nilai dan spiritnya berasal dari Weda,” tegas Ida Pandita.

Adanya keraguan dalam menjalankan tradisi Hindu di Bali muncul akibat pola pikir umat itu sendiri. Umat Hindu di Bali mulai memandang agamanya dalam sudut pandang agama lain. Apa kitab sucimu, siapa nabimu? Pertanyaan semacam ini muncul seakan menjadi acuan legitimasi eksistensi sebuah agama. Padahal format tersebut dibangun agama Abrahamik.  

“Maka ketika bicara Hindu, posisikan pada tiga posisi yakni penghayat, pengamat dan penikmat. Kalau sudah penghayat atau menghayati, maka kebijaksanaan yang timbul. Ketika sebagai penikmat, ketika agama kita tidak nikmat, kemudian dicerca, kita marah. Kalau kita pengamat, kita bisa mengevaluasi diri kita,” jelasnya.  

Baca Juga:   Salinan Kitab Suci Bhagawadgita Terbesar Tersimpan di Pulau Peninsula

Lebih lanjut disampaikan, umat Hindu di Bali tak perlu bimbang dengan wacana “Kembali ke Weda”. Sebab, mempelajari Weda bukan soal apakah kita membaca kitab suci atau tidak. Di Sarasamuscaya dan Agni Purana disebutkan bahwa Weda itu takut dengan orang bodoh. Maka untuk memasuki dunia Weda, harus benar-benar dipelajari dan dilembagakan. Maka jangan heran, agama Hindu di Bali lebih banyak menerjemahkan ajaran Weda dalam bentuk praktik riil. 

Agar lebih mudah, Ida Pandita memberikan contoh, kisah Mahabharata dengan tokoh sentral Krisna. Apakah Krisna tokoh riil atau imajiner? Pertanyaan ini tidak penting dijawab. Sebab, ada hal yang jauh lebih penting yakni nilai-nilai kebenaran dalam kisah tersebut. Nilai-nilai itulah menjelma dalam teks atau lontar di Bali. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini