Imigrasi Ngurah Rai Pastikan Layanan Tetap Prima Meski Terapkan WFA

0
179
Kanim Ngurah Rai
Kepala Kanim Ngurah Rai saat memberikan arahan kepada personel di TPI Bandara Ngurah Rai. (ist)

balibercerita.com –
Kantor Imigrasi (Kanim) Ngurah Rai menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan pelayanan keimigrasian yang optimal kepada masyarakat, baik warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA), meskipun menerapkan kebijakan work from anywhere (WFA) pascalibur panjang hari raya Nyepi dan Idulfitri 2026.

Kebijakan penyesuaian sistem kerja tersebut dipastikan tidak berdampak pada kualitas layanan. Seluruh pelayanan keimigrasian, mulai dari permohonan dan penggantian paspor hingga perpanjangan izin tinggal, tetap berjalan normal dan lancar.

Tak hanya itu, aktivitas di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai juga tetap beroperasi penuh selama 24 jam setiap hari. Langkah ini dilakukan guna menjamin kelancaran arus kedatangan dan keberangkatan penumpang yang keluar-masuk Pulau Dewata, terutama di tengah meningkatnya mobilitas pasca libur panjang.

Baca Juga:   Kantor Imigrasi di Klungkung dan Tabanan Segera Beroperasi

Kepala Kanim Ngurah Rai, Bugie Kurniawan menegaskan bahwa penerapan WFA tidak akan mengurangi fungsi pengawasan keimigrasian. Pihaknya tetap menjalankan pengawasan secara ketat terhadap aktivitas dan keberadaan orang asing di wilayah kerjanya, meliputi Kecamatan Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan. Penerapan WFA dilakukan secara seimbang agar pelayanan publik tetap prima sekaligus menjaga ketertiban dan keamanan wilayah.

“Pelayanan publik tetap menjadi prioritas utama, namun kami juga memastikan fungsi keamanan dan penegakan hukum berjalan maksimal. Pengawasan terhadap orang asing tetap dilakukan secara rutin,” ujarnya.

Baca Juga:   Bupati Tabanan Ingatkan Pentingnya Menjaga Kelestarian Jatiluwih

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Bali, Felucia Sengky Ratna menekankan bahwa kebijakan ini telah melalui perencanaan dan mitigasi risiko yang matang. Hal tersebut dilakukan agar tidak mengganggu kepentingan publik maupun aspek keamanan negara.

“Seluruh jajaran telah kami instruksikan untuk memastikan WFA tidak menjadi hambatan dalam memberikan respons cepat kepada masyarakat. Bali sebagai etalase pariwisata dunia menuntut kesiapsiagaan tanpa henti,” tegas Felucia.

Ia juga menegaskan bahwa digitalisasi layanan tetap diimbangi dengan kehadiran petugas secara langsung di titik-titik krusial, seperti di tempat pemeriksaan imigrasi bandara. Felucia memastikan bahwa sistem pengawasan keimigrasian tetap berjalan optimal melalui integrasi data dan pemantauan lapangan yang intensif.

Baca Juga:   Jelang Imlek 2026, Ekspor Manggis Bali ke Tiongkok Melonjak 700 Persen

“Integritas dan profesionalisme pegawai menjadi kunci utama, baik bekerja dari kantor maupun dari lokasi lain. Sistem pengawasan kami tetap aktif untuk menjaga ketertiban keimigrasian di Bali,” pungkasnya.

Sebagai informasi, kebijakan WFA di lingkungan Imigrasi Ngurah Rai diterapkan pada 16–17 Maret serta 25–27 Maret 2026. Meski demikian, pelayanan kepada masyarakat dan pengawasan keimigrasian tetap menjadi prioritas utama demi menjaga citra Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia. (BC5)