Empat Pesawat Maskapai Timur Tengah Masih Tertahan di Bandara Ngurah Rai

0
22
Timur Tengah Bandara Ngurah Rai
Pesawat Emirates yang parkir di Bandara Ngurah Rai. Emirates adalah salah satu maskapai yang pesawatnya masih tertahan di bandara tersebut. (ist)

balibercerita.com –
Dampak konflik di kawasan Timur Tengah membuat sejumlah penerbangan dari maskapai negara tersebut belum dapat kembali beroperasi dari Bandara I Gusti Ngurah Rai. Hingga kini tercatat empat pesawat dari tiga maskapai masih berada di apron bandara dan menunggu perkembangan situasi.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati menjelaskan bahwa ada dua sampai tiga pesawat rute Timur Tengah yang masih tertahan dan belum bisa terbang berasal dari beberapa maskapai yaitu satu pesawat maskapai Etihad tujuan Abu Dhabi, dua pesawat Qatar tujuan Doha dan satu maskapai Emirates tujuan Dubai. “Jadi total ada empat pesawat. Untuk kapasitas parking penempatan parkir pesawat masih aman,” katanya.

Baca Juga:   Di Jumbara V, Ny. Putri Koster Dorong Pemilahan Sampah Berbasis Sumber

Ia juga menegaskan kondisi ini tidak masuk dalam kategori force majeure karena bukan disebabkan oleh faktor alam. Situasi tersebut lebih kepada kondisi yang direncanakan karena perang merupakan suatu strategi. Meski demikian, pihaknya membuka kemungkinan adanya kebijakan tertentu, termasuk potensi keringanan biaya bagi maskapai jika situasi berlangsung cukup lama.

Namun keputusan tersebut masih akan dipertimbangkan. “Nanti kita lihat apakah butuh kebijakan. Dipertimbangkan apakah ada diskon atau tidak. Yang menjadi kewenangan kami pasti akan dimaksimalkan. Kalau harus meminta izin ke Jakarta tentu akan kami ajukan sesuai ketentuannya,” ujarnya.

Terkait biaya parkir pesawat yang menginap, Nugroho menjelaskan besaran tarif berbeda-beda tergantung tipe pesawat, baik pesawat besar, sedang, maupun kecil. Perhitungannya juga tidak bisa langsung ditentukan karena harus melalui kalkulasi khusus.

Baca Juga:   Komisi IV DPRD Badung Soroti Banjir Kuta, Desak Evaluasi Menyeluruh

“Angka persisnya saya tidak hapal karena harus dihitung dulu. Ada kalkulasinya sendiri dan harus dibandingkan dengan data manifest serta data dari maskapai,” katanya.

Sementara itu, Deputy General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Ngurah Rai, Demiyanto menjelaskan biaya yang dikenakan kepada maskapai tidak hanya satu jenis. Dalam operasional penerbangan terdapat berbagai komponen biaya seperti pendaratan, parkir pesawat, layanan penumpang hingga penggunaan konter. “Biaya dari maskapai itu tidak hanya pendaratan saja. Ada biaya landing, penempatan parkir, biaya penumpang, sampai biaya konter,” jelasnya.

Sebagai gambaran, biaya pendaratan pesawat di Bandara Ngurah Rai berkisar sekitar Rp7 juta untuk sekali landing, tergantung berat dan tipe pesawat. Sementara biaya parkir bersifat progresif sehingga harus dihitung berdasarkan durasi dan kategori pesawat. “Kalau parkir harus dihitung lagi karena sifatnya progresif,” ujarnya.

Baca Juga:   Saat KTT G20, Basarnas Terjunkan Seratusan Personel Dilengkapi Alut

Dari sisi pergerakan penumpang, Demiyanto menyebut lima penerbangan dari rute tersebut sebelumnya rata-rata membawa sekitar 1.000 hingga 1.200 penumpang per hari. Selain pendapatan dari pesawat, bandara juga memperoleh pemasukan dari penumpang yang berangkat melalui Passenger Service Charge (PSC). Di Bandara Ngurah Rai, PSC untuk penumpang internasional sekitar Rp240 ribu per orang.

“Kalau lima pesawat mendatangkan sekitar 1.000 sampai 1.500 penumpang per hari, bisa dibayangkan potensi pendapatan dari penumpang yang berangkat karena mereka membayar PSC sekitar Rp240 ribu per orang,” jelasnya. (BC5)