Mangupura, balibercerita.com –
Di tengah tantangan pengelolaan sampah di wilayah urban, seorang perempuan di Kuta Selatan tampil sebagai motor perubahan. Ni Wayan Leri, Kepala Lingkungan Permata Nusa Dua, memimpin gerakan pemilahan dan pengolahan sampah berbasis komunitas melalui Plastic Exchange, program yang kini jadi inspirasi di berbagai wilayah lain.
Sejak empat tahun lalu, Leri dan komunitasnya mengedukasi warga untuk memilah sampah langsung dari rumah. Sampah anorganik seperti plastik, kaca, dan besi dikumpulkan dan ditimbang untuk ditukar dengan kebutuhan pokok. Sementara itu, sampah organik diolah menjadi kompos menggunakan komposter lokal buatan warga.
“Awalnya tidak mudah mengajak warga untuk memilah. Tapi dengan edukasi dan keteladanan, kini sebagian besar sudah sadar pentingnya pengelolaan sampah,” ujar Leri.
Tidak hanya warga Permata Nusa Dua, gerakan ini bahkan menjangkau komunitas di wilayah lain di Kecamatan Kuta Selatan. Leri memastikan bahwa gerakan ini bukan hanya soal sampah, tapi soal membangun tanggung jawab kolektif.
Camat Kuta Selatan, I Ketut Gede Arta, memberikan apresiasi khusus terhadap peran Leri. “Beliau bukan hanya kepala lingkungan, tapi juga penggerak sosial. Apa yang dilakukan adalah contoh kepemimpinan berbasis nilai dan aksi nyata,” ujarnya.
Kini, Permata Nusa Dua memiliki komposter skala rumah tangga hingga balai banjar yang mampu menampung sampah organik dalam jumlah besar. Gerakan ini juga membuka peluang ekonomi kecil lewat konversi sampah menjadi nilai tukar.
“Ini bukti bahwa kepemimpinan lokal bisa jadi kunci perubahan lingkungan. Tidak perlu teknologi mahal. Yang dibutuhkan adalah ketulusan, kolaborasi, dan keberanian memulai,” ucap Arta. (BC5)



















