Sampah Tuntas di TPST, Desa Kutuh Tak Lagi Andalkan TPA

0
252
Sampah
Perbekel Kutuh, I Wayan Mudana. (ist)

Mangupura, balibercerita.com –
Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, mendeklarasikan diri sebagai desa yang mandiri dalam pengelolaan sampah. Tidak lagi bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA), seluruh sampah kini dikelola langsung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tebo Kauh.

Perbekel Desa Kutuh, I Wayan Mudana menegaskan bahwa langkah ini lahir dari komitmen bersama masyarakat dan stakeholder. “Kami punya komitmen kuat agar Desa Kutuh benar-benar bebas dari sampah. Pengelolaan dilakukan di desa sendiri, dengan sistem yang rapi dan terpadu,” ujarnya.

Di TPST Tebo Kauh, sampah organik diolah menjadi kompos, eco enzym, hingga produk bermanfaat lainnya. Sementara sampah non-organik diubah menjadi paving block. Bahkan untuk residu atau sisa sampah, digunakan incinerator Motah agar tidak ada yang terbuang percuma.

Baca Juga:   Gagalkan Penyelundupan 7.355 Burung Ilegal di Padangbai, Badan Karantina Tegaskan Cegah Flu Burung Masuk Bali

Setiap hari, TPST ini mengelola 7–13 ton sampah, jumlah yang cukup besar untuk ukuran desa. Sistem pengelolaan juga mengikuti aturan pemerintah, seperti larangan plastik sekali pakai dan pengelolaan sampah sejak dari sumber.

Warga Desa Kutuh pun ikut aktif terlibat. Sekitar 50 persen rumah tangga sudah rutin memilah sampah dari rumah. Meski belum sepenuhnya merata, progres ini dinilai cukup menggembirakan. Sisanya tetap diselesaikan di TPST. Pembiayaan pengelolaan berasal dari APBDes dan iuran warga sekitar Rp35 ribu per bulan.

Baca Juga:   Cegah Rabies dan Perkembangan Anjing Liar, Dinas Pertanian Denpasar Lakukan Ini

“Yang paling penting bukan soal uang, tapi soal kesadaran. Menangani sampah itu tidak mudah dan tidak murah, jadi harus dilakukan bersama-sama,” jelas Mudana.

Deklarasi Desa Kutuh ini mendapat perhatian luas. Sejumlah desa bahkan datang untuk belajar langsung mengenai sistem pengelolaan sampah yang dijalankan.

Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, pengelolaan sampah bukan hanya soal teknologi, tapi kebiasaan dari rumah. Jika warga sudah terbiasa memilah, maka sampah yang masuk ke TPST tinggal sedikit dan mudah diolah menjadi kompos, paving, atau bahkan ditukar lewat program Plastik Exchange.

Baca Juga:   Qantas Airlines Kembali Mendarat di Bandara Ngurah Rai

Ia menyebut desa-desa lain di wilayah Kuta Selatan seperti Tanjung Benoa, Pecatu, Ungasan, Jimbaran, dan Benoa juga tengah bergerak ke arah serupa. Kebiasaan kecil seperti memilah sampah dari rumah disebutnya sebagai kunci agar desa benar-benar mandiri dalam menjaga lingkungannya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini