Mangupura, balibercerita.com –
Di tengah tantangan pengelolaan sampah dan isu lingkungan yang kian kompleks, warga Kecamatan Kuta Selatan justru memulai langkah perubahan dari hal paling mendasar yakni membangun kesadaran kolektif. Gerakan bernama “Jumat Bersepeda” kini menjadi simbol baru perubahan sosial yang tumbuh dari akar rumput.
Meski namanya identik dengan aktivitas olahraga, “Jumat Bersepeda” bukan soal mengayuh sepeda. Kata “Bersepeda” merupakan akronim dari Bersih, Sehat, Peduli Lingkungan Desa/Kelurahan, sebuah gerakan gotong royong yang digelar setiap hari Jumat, berfokus pada kebersihan lingkungan secara sadar dan berkelanjutan.
Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta menjelaskan bahwa esensi gerakan ini bukan terletak pada skala besar kegiatan, melainkan pada kesadaran kolektif yang tumbuh secara konsisten. “30 menit saja cukup, asalkan dijalankan dengan sadar, ikhlas, dan serius,” ujar Gede Arta.
Inisiatif ini sudah mulai terlihat nyata di sejumlah wilayah, seperti Desa Ungasan dan Lingkungan Teba Jimbaran. Di sana, warga, perangkat desa, dan tokoh masyarakat bahu-membahu membersihkan lingkungan, tanpa menunggu petugas kebersihan dan tanpa mengandalkan pihak luar. “Jumat Bersepeda bukan sekadar bersih-bersih, tapi juga gerakan moral. Ini soal rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan,” tegasnya.
Dengan pendekatan berbasis sumber, warga didorong memulai dari rumah sendiri. Gerakan ini mengajak untuk tidak membuang tanggung jawab ke pihak lain, melainkan menumbuhkan budaya baru: budaya sadar sampah, budaya saling peduli, dan budaya tidak mencemari desa lain.
Jumat Bersepeda kini mulai menunjukkan potensi sebagai model transformasi sosial yang bisa direplikasi di berbagai wilayah. Gede Arta percaya, dari langkah kecil inilah perubahan besar bisa dimulai. “Perubahan tidak harus menunggu. Kuta Selatan ingin membuktikan bahwa dari desa, dari warga, dan dari Jumat yang sederhana, bisa lahir inspirasi untuk hidup yang lebih bersih dan berkelanjutan,” pungkasnya. (BC5)



















