Jñana Prawĕrti: Konsep Banjar sebagai Laboratorium Kebudayaan Bali

0
8
Banjar
Ketiga penulis karya ilmiah Jñana Prawĕrti: Integrasi Pendidikan Jana Kerthi dan Ekosistem Adat Banjar dalam Membentuk Manusia Bali Unggul serta Menyongsong Haluan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125. (ist)

balibercerita.com –
Gagasan mengenai pembangunan sumber daya manusia Bali melalui penguatan pendidikan dan institusi adat banjar mengantarkan karya tulis ilmiah berjudul Jñana Prawĕrti: Integrasi Pendidikan Jana Kerthi dan Ekosistem Adat Banjar dalam Membentuk Manusia Bali Unggul serta Menyongsong Haluan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125 meraih juara harapan II pada Lomba Karya Tulis Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125.

Kompetisi yang diselenggarakan DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali itu diikuti 1.812 peserta yang tergabung dalam 453 tim. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, profesional, perangkat desa, hingga masyarakat umum.

Karya ilmiah tersebut disusun oleh Ir. Gde Wikan Pradnya Dana, S.T., M.T., Dr. Putu Eka Sura Adnyana, M.Ag., M.Hum., dan I Made Suartana, S.H. Melalui tulisan itu, mereka menawarkan model pembangunan manusia Bali yang mengintegrasikan pendidikan formal dengan nilai-nilai sosial budaya yang hidup dalam sistem banjar.

Konsep Jñana Prawĕrti lahir dari kegelisahan terhadap sejumlah persoalan yang dihadapi generasi muda Bali, seperti melemahnya karakter, berkurangnya keterlibatan dalam kehidupan komunal, kesenjangan akses pendidikan, hingga tantangan globalisasi yang berpotensi mengikis identitas budaya. Melalui pendekatan tersebut, pendidikan dipandang tidak hanya sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana membentuk karakter, kompetensi, dan kesadaran budaya. Sinergi antara sekolah, pemerintah, dan Banjar menjadi fondasi utama dalam mewujudkan generasi Bali yang unggul sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai lokal.

Baca Juga:   Unik, Tradisi Siat Yeh di Desa Adat Suwat

Salah seorang penulis, Dr. Putu Eka Sura Adnyana, M.Ag., M.Hum., menegaskan, penghargaan yang diraih memiliki makna lebih dari sekadar prestasi akademik. “Bali membutuhkan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan manusia. Melalui Jñana Prawĕrti, kami ingin menegaskan bahwa pendidikan dan Banjar harus menjadi ruang bersama untuk melahirkan generasi Bali yang berkarakter, unggul, dan tetap berakar pada nilai-nilai budayanya. Banjar adalah ruang Marhaenisme sejati, tempat nilai gotong royong, persamaan, solidaritas, dan pengabdian kepada masyarakat hidup dan dipraktikkan dalam keseharian masyarakat Bali,” ujarnya.

Baca Juga:   Tiga Ogoh-ogoh Kuta Selatan Tiba di Puspem Badung, Tempuh Perjalanan 12 Jam

Pandangan serupa disampaikan Ir. Gde Wikan Pradnya Dana, S.T., M.T. Menurutnya, banjar perlu diposisikan kembali sebagai ruang pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman, tidak hanya menjalankan fungsi administratif maupun kegiatan adat.

“Banjar tidak boleh hanya dipandang sebagai ruang administratif dan ritual semata. Banjar harus direkonstruksi menjadi laboratorium inovasi, ruang kolaborasi, dan pusat pengembangan kreativitas generasi muda. Lebih dari itu, banjar merupakan laboratorium kebudayaan Bali, sebuah ruang yang mensintesiskan pendidikan formal dengan pengalaman hidup bermasyarakat. Apa yang dipelajari di sekolah menemukan relevansinya di Banjar melalui praktik ngayah, musyawarah, kepemimpinan, dan penyelesaian persoalan sosial secara kolektif,” katanya.

Ia menilai, revitalisasi fungsi banjar menjadi strategi penting dalam mencetak generasi muda yang adaptif terhadap perubahan, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.

Sementara itu, I Made Suartana, S.H., mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat mengikuti kompetisi tersebut. Menurutnya, banyaknya gagasan yang lahir mencerminkan besarnya kepedulian publik terhadap arah pembangunan Bali pada masa mendatang.

“Dari 453 tim dan 1.812 peserta, lahir begitu banyak gagasan yang menunjukkan kecintaan terhadap Bali. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan ide-ide yang konstruktif dan aplikatif demi pembangunan Bali seratus tahun ke depan. Masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh keberanian generasi muda dan kalangan intelektual dalam menawarkan gagasan-gagasan pembaruan,” ujarnya.

Baca Juga:   Undiksha Buka Jalur SNBT 2026, Peluang Masuk PTN Masih Terbuka

Dalam karya tersebut, tim penulis juga memperkenalkan tiga pilar pembentukan manusia Bali yakni Sidhi yang menitikberatkan pada kematangan spiritual, Sidha sebagai simbol kompetensi dan profesionalitas, serta Sudha yang mencerminkan integritas moral. Ketiga nilai itu dipandang sebagai fondasi untuk mendukung visi Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun dengan semangat “Satu Pulau, Satu Pola, dan Satu Tata Kelola.”

Bagi para penulis, keberhasilan pembangunan Bali tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan fisik, tetapi juga bergantung pada kualitas manusianya. Karena itu, pendidikan formal perlu berjalan beriringan dengan pendidikan sosial dan kebudayaan yang tumbuh di lingkungan banjar sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, solidaritas, dan pengabdian masyarakat. (BC10)