balibercerita.com –
Ada banyak desa wisata di dunia yang menawarkan keindahan alam. Ada pula yang memamerkan kekayaan budaya. Namun, Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli menghadirkan sesuatu yang lebih langka yaitu sebuah kehidupan yang tetap berjalan harmonis di tengah arus modernisasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Begitu melangkah melewati gerbang desa, suasana berubah seketika. Riuh kendaraan dan hiruk-pikuk kota berganti dengan desir angin yang menyapu rumpun bambu, suara burung, serta keramahan warga yang masih menjaga tradisi leluhur. Penglipuran seolah menjadi lorong waktu yang mengajak siapa saja kembali pada nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan keseimbangan hidup.
Di atas wilayah adat seluas 112 hektare yang dihuni sekitar 250 kepala keluarga, setiap sudut desa tampil rapi dan bersih. Jalan batu yang membelah permukiman terlihat tanpa sampah, rumah-rumah tradisional berdiri seragam, sementara taman-taman kecil menghiasi pekarangan warga. Kebersihan bukan sekadar slogan, melainkan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Keistimewaan Penglipuran telah mengundang perhatian dunia. Desa ini berulang kali masuk dalam daftar Green Destinations Top 100, meraih predikat Best Tourism Villages dari Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO), hingga menerima penghargaan Kalpataru berkat keberhasilan masyarakat menjaga hutan bambu seluas 45 hektar yang menjadi paru-paru sekaligus sumber resapan air desa. Penghargaan tersebut bukan semata-mata karena keindahan fisik desa, melainkan karena keberhasilan masyarakat mempertahankan hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam.
Di balik pesona arsitektur tradisionalnya, kekuatan utama Penglipuran terletak pada hukum adat atau awig-awig yang masih dijalankan secara konsisten. Salah satu aturan yang paling dikenal adalah larangan poligami.
Bagi masyarakat Penglipuran, perkawinan harus berlandaskan kesetiaan dan penghormatan terhadap perempuan. Warga yang melanggar aturan tersebut akan dikenai sanksi adat dan ditempatkan di kawasan khusus bernama Karang Memadu. Tradisi ini menjadi simbol kuat penghormatan terhadap kesetaraan dalam kehidupan keluarga.
Kehidupan sosial masyarakat juga dibangun melalui semangat gotong royong. Setiap keluarga memiliki tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan, merawat fasilitas umum, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan. Nilai kebersamaan inilah yang menjadikan Penglipuran tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.
Di era ponsel pintar dan media sosial, Penglipuran masih mempertahankan cara komunikasi yang nyaris punah. Sesekali, keheningan desa akan dipecahkan oleh suara lantang seorang warga yang berjalan menyusuri jalan utama sambil menyampaikan pengumuman.
Tanpa pengeras suara, tanpa mikrofon, dan tanpa teknologi digital, informasi penting desa disampaikan secara lisan dari rumah ke rumah. Tradisi ini bukan sekadar cara menyebarkan informasi, tetapi juga menjadi simbol kedekatan sosial yang masih terjaga. Di Penglipuran, komunikasi tetap memiliki sentuhan manusia yang hangat dan personal.
Salah satu pengalaman paling menarik saat berkunjung ke Penglipuran adalah menjelajahi pekarangan rumah warga yang terbuka bagi wisatawan. Setiap rumah dibangun berdasarkan konsep Sanga Mandala, pembagian ruang yang mencerminkan filosofi keseimbangan kehidupan masyarakat Bali.
Memasuki gerbang atau angkul-angkul, pengunjung akan disambut oleh aling-aling, dinding kecil yang dipercaya berfungsi menolak energi negatif. Di bagian tengah terdapat bale dauh sebagai tempat berkumpul keluarga dan menerima tamu.
Tak jauh dari sana terdapat paon atau dapur tradisional. Aroma kayu bakar yang mengepul dari tungku tanah liat menghadirkan suasana hangat yang sulit ditemukan di era modern. Sementara, di bagian paling suci terdapat sanggah atau pura keluarga yang menjadi pusat aktivitas spiritual setiap rumah tangga.
Menariknya, antarpekarangan rumah saling terhubung melalui pintu kecil di bagian belakang. Pengunjung dapat berpindah dari satu rumah ke rumah lain tanpa harus kembali ke jalan utama. Tata ruang ini mencerminkan eratnya hubungan sosial antartetangga yang masih terjaga hingga kini.
Perjalanan di Penglipuran terasa belum lengkap tanpa mengunjungi hutan bambu yang membentang di bagian utara desa. Hutan seluas 45 hektar ini menjadi ikon sekaligus benteng ekologis Penglipuran.
Ratusan batang bambu menjulang tinggi membentuk lorong alami yang menghadirkan ketenangan. Cahaya matahari yang menembus sela-sela bambu menciptakan panorama yang memukau sekaligus menenangkan. Di tempat inilah masyarakat Penglipuran belajar bahwa menjaga alam bukan hanya soal pelestarian lingkungan, tetapi juga menjaga sumber kehidupan generasi mendatang.
Setelah berjalan menyusuri desa dan hutan bambu, wisatawan biasanya menikmati segelas loloh cemcem, minuman herbal khas Penglipuran yang terbuat dari daun cemcem. Rasanya unik, perpaduan asam, manis, asin, dan sedikit pedas yang menyegarkan tenggorokan. Minuman tradisional ini telah menjadi bagian dari identitas kuliner desa dan selalu dicari wisatawan yang ingin merasakan cita rasa khas Penglipuran.
Selain terkenal dengan kebersihan dan tata ruangnya, Penglipuran juga memiliki kekayaan seni budaya yang masih lestari, salah satunya tari baris sakral. Tarian yang diwariskan secara turun-temurun ini memiliki fungsi khusus sebagai bagian dari pelaksanaan upacara dewa yadnya. Keberadaannya tergolong langka karena hanya dipentaskan pada momen-momen sakral tertentu.
Di Desa Adat Penglipuran terdapat tiga jenis tari baris sakral, yakni Baris Jojor yang dimainkan oleh 12 penari, Baris Presi dengan 12 penari, dan Baris Bedil yang dibawakan oleh 20 penari. Seluruh pementasan diiringi gamelan gong gede yang dimainkan oleh Sekaa Gong Gede Desa Adat Penglipuran. Menariknya, keanggotaan para penari bahkan telah diatur dalam awig-awig desa, menunjukkan betapa pentingnya peran kesenian dalam menjaga identitas budaya masyarakat.
Desa Penglipuran bukan sekadar tempat berburu foto indah atau menikmati suasana pedesaan. Desa ini adalah bukti nyata bahwa tradisi dan modernitas tidak harus saling meniadakan. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, masyarakat Penglipuran menunjukkan bahwa menjaga alam, menghormati adat, merawat budaya, dan memperkuat kebersamaan justru menjadi kemewahan yang paling berharga.
Karena itulah, setiap langkah di Penglipuran bukan hanya perjalanan wisata, melainkan perjalanan untuk memahami bagaimana sebuah komunitas mampu menjaga warisan leluhur sekaligus menginspirasi dunia. (BC5)















