Suara Batu Kerug di Pura Ini Dipercaya Sebagai Tanda Mulainya Musim Hujan  

0
624
Pura Pegonjongan
Areal utama Pura Pegonjongan. (BC17)

Singaraja, balibercerita.com – 

Pura Pegonjongan berlokasi di Desa Adat Geretek, Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula. Pura ini banyak menyimpan kisah menarik. Mulai dari hubungan dengan Pura Dalem Balingkang, keistimewaan batu kerug atau batu kilat, patirtan yang konon dibuat oleh Kebo Iwa, hingga kawasan pantai sekitarnya yang dahulu merupakan dermaga penting bagi Bali dan menjadi saksi bisu tingginya toleransi masyarakat Bali. 

Pura Pegonjongan diempon lima desa adat dari dua kabupaten berbeda. Pangemponnya yakni Desa Adat Geretek, Tembok dan Sambirenteng di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, serta Siakin dan Pinggan di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Tokoh spiritual setempat, Ida Empu Dharma Putra Yoga Daksa Manuaba menjelaskan, sejauh ini belum diketahui sejarah pembangunan Pura Pegonjongan. Hal ini mengingat belum ditemukannya catatan atau babad terkait pura tersebut. Meski demikian, dari cerita turun temurun menyebutkan bahwa zaman dahulu di kawasan Pura Pegonjongan terdapat sebuah dermaga. Dermaga ini tebilang strategis sehingga menjadi salah satu pusat perdagangan. Kawasan ini pun kemudian banyak dikunjungi para saudagar dari berbagai daerah, bahkan dari Tiongkok. 

Baca Juga:   Tumpek Wariga, Pemkab Badung Gelar Persembahyangan Bersama 

Mengingat dermaga tersebut sudah terkenal dan ramai, didirikanlah sebuah tempat suci sebagai stana dewa-dewi perdagangan. Makanya, di Pura Pegonjongan terdapat dua bangunan utama yakni di sebelah timur disebut Pura Kanginan dan di barat berupa Pura Kawanan. Ida Batara yang berstana di Pura Kanginan adalah Ida Batara Ngurah Subandar. Sementara, di Pura Kawanan berstana Ida Ratu Ayu Subandar. Sampai sekarang, cukup banyak umat khususnya yang berprofesi sebagai pedagang yang bersembahyang dan memohon kesejahteraan di pura ini. 

Menurut Ida Empu, sebagian besar umat Hindu di Bali yang berprofesi sebagai pedagang ngelinggihang Ratu Ayu Subandar. Demikian halnya dengan pura yang berkaitan dengan perdagangan, rata-rata hanya berisikan stana bagi Ratu Ayu Subandar. Lain halnya di Pura Pegonjongan yang memiliki bangunan suci lengkap untuk Ratu Ayu Subandar dan Ratu Ngurah Subandar. “Kalau di Hindu Bali, Ratu Ngurah Subandar adalah suami dari Ratu Ayu Subandar. Oleh karena itu di sini dibuatkan palinggih untuk keduanya,” ungkapnya. 

Baca Juga:   Hilangkan Unsur Terpaksa dan Gengsi dalam Yadnya 

Selain dua pura utama tadi, terdapat pula bangunan suci lainnya yang tergolong istimewa berupa patirtan. Konon, patirtan ini dibuat oleh Kebo Iwa, panglima perang Bali yang membuat Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit kesulitan menundukkan kerajaan Bali. Zaman dahulu, patirtan tersebut terbuat dari batu padas. Namun, akibat terus tergerus ombak dan termakan usia, bangunan aslinya sudah hancur sehingga harus diganti.  

Di patirtan ini juga dipercaya pernah terdapat pancuran. Ada yang menyatakan jumlahnya sebelas pancuran, ada pula yang menyebut sembilan. “Namun dari Desa Adat Geretek menyebut ada tujuh pancuran. Karena belum ada dana, maka pembuatan pancuran belum bisa dilakukan. Yang ada sekarang hanya tempat patirtan, seperti sumur yang menggunakan buis,” ujar Ida Empu. 

Baca Juga:   Pura Taman Pecampuhan Sala, Perpaduan Eksotisme Alam dan Daya Magis yang Sempurna

Lebih lanjut dijelaskan, di sisi luar patirtan, tepatnya di pinggir pantai, terdapat sebuah batu yang dipagari. Batu tersebut dinamakan batu kerug atau dalam bahasa Indonesia disebut batu kilat. Batu yang disucikan ini dipercaya berkaitan erat dengan batu keramat di Pura Lingsar, Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

Batu kerug juga diyakini memiliki kaitan dengan pertanda alam. Masyarakat setempat percaya, jika batu kerug belum bersuara, maka musim hujan belumlah tiba. Kepercayaan ini tetap dipegang meskipun zaman sekarang sudah ada perhitungan melalui kalender maupun alat modern. 

“Jadi, batu kilat ini ada kaitannya dengan pertanian. Patokannya batu kilat ini. Kalau batu kilat ini sudah bersuara tiga kali, pasti sudah akan turun hujan. Kalau belum seperti itu, petani di sini belum mau bercocok tanam,” katanya. (BC13) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini