balibercerita.com –
Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) mengadakan kegiatan Dharma Shanti Panyepian pada Kamis (26/3), sebagai wadah refleksi bagi mahasiswa Hindu. Kegiatan ini menjadi ajang penting untuk meneguhkan sekaligus mengembangkan nilai-nilai keagamaan di tengah laju perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Yowana Brahma Vidya (KMHD YBV) Undiksha, acara berlangsung dengan nuansa khidmat namun tetap menghadirkan diskusi intelektual yang hidup. Hadir sebagai narasumber utama, Petajuh I Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Ida Bagus Ketut Suarjata, yang menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas.
Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan dalam sambutannya memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa dharma shanti sebaiknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dikembangkan menjadi program berkelanjutan dengan dampak yang lebih luas dan makna yang lebih dalam.
Bahkan, ia menantang mahasiswa untuk melangkah lebih jauh dengan menyelenggarakan utsawa dharma gita tingkat nasional pada tahun mendatang. “Saya harap tahun depan ini bisa terwujud. Masalah pendanaan akan kami dukung,” tegasnya.
Lasmawan juga menekankan perlunya pendekatan yang lebih progresif dalam memahami ajaran Hindu agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Ia menilai bahwa nilai-nilai agama tidak cukup diwariskan secara turun-temurun, tetapi harus dipahami secara rasional serta kontekstual oleh generasi muda.
“Sebagai umat Hindu, kita harus memiliki pemahaman yang jelas, rasa bangga terhadap agama, serta kemampuan mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berinteraksi dengan lingkungan dan merancang masa depan,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari penguatan ajaran agama, bukan sebagai ancaman. Menurutnya, teknologi justru dapat menjadi sarana strategis dalam memperluas pemahaman dan praktik keagamaan.
“Ke depan, kita harus mampu membawa agama Hindu berkembang dalam balutan teknologi tanpa kehilangan esensinya. Teknologi dapat memperluas pemahaman dan praktik keagamaan, sementara nilai agama menjadi fondasi agar pemanfaatannya tetap membawa kebaikan,” jelasnya.
Sementara itu, Ida Bagus Suarjata mengungkapkan bahwa tantangan umat Hindu saat ini masih terletak pada penguasaan teknologi. Namun, ia menegaskan bahwa kekuatan budaya tetap menjadi identitas utama yang memperkuat eksistensi umat Hindu.
“Identitas kita adalah budaya. Karena itu, melalui lembaga pendidikan dan peran aktif mahasiswa, pemahaman terhadap agama, budaya, dan jati diri harus terus ditingkatkan agar mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ajaran agama sejatinya memiliki landasan kuat sehingga tidak perlu diperdebatkan secara tidak produktif. Fokus utama seharusnya diarahkan pada penerapan ajaran secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, ia menekankan peran penting desa adat dalam menjaga keberlangsungan agama Hindu di Bali. “Agama Hindu bisa tetap ajeg karena ditopang oleh desa adat. Karena itu, peran desa adat harus terus diperkuat sebagai benteng pelestarian nilai-nilai dharma,” tegasnya.
Ia juga mengajak umat Hindu untuk berpegang pada sastra suci dalam menjalankan upacara keagamaan, sehingga tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga memiliki makna mendalam.
Dalam kaitannya dengan tema “Harmonisasi Bhuana Agung dan Bhuana Alit”, ia menjelaskan bahwa konsep tersebut mengajarkan keseimbangan antara alam semesta dan manusia.
“Harmonisasi ini mengajarkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Apa yang dilakukan manusia terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan akan berdampak pada keseimbangan semesta,” jelasnya.
Menurutnya, di era modern konsep ini semakin relevan, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi yang harus tetap dilandasi kesadaran spiritual dan etika. “Ketika bhuana alit, diri manusia mampu dijaga melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik, maka akan berkontribusi pada keharmonisan bhuana agung. Inilah esensi ajaran Hindu yang harus terus dihidupkan, termasuk dalam menghadapi era digital,” katanya. (BC13)


















