balibercerita.com –
Siklon Tropis Narelle yang berkembang di wilayah selatan Indonesia dilaporkan terus mengalami penguatan dan pergerakan menjauhi wilayah Tanah Air. Meski demikian, dampak tidak langsung berupa cuaca ekstrem masih dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Bali dan Nusa Tenggara.
Berdasarkan data meteorologi, Siklon Tropis Narelle awalnya terbentuk dari Bibit Siklon Tropis 96P dan mencapai intensitas siklon tropis pada 17 Maret 2026 pukul 13.00 WIB. Sistem ini mulai memasuki wilayah monitoring TCWC Jakarta pada 21 Maret 2026 dini hari. Setelah sempat melemah menjadi Tropical Low, Narelle kembali menguat menjadi kategori 1 pada 25 Maret 2026, dan kini berkembang hingga kategori 3–4 dengan pergerakan ke arah barat daya.
Penguatan tersebut memicu dampak tidak langsung berupa hujan sedang hingga lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi yang bahkan mencapai lebih dari 4 meter di sejumlah perairan selatan Indonesia, mulai dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, hingga Jawa Timur.
Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah III, Luh Eka Arisanti menjelaskan bahwa dampak siklon terhadap Bali relatif tidak signifikan dan lebih dominan terjadi di wilayah perairan. “Pantauan sejak 25 hingga 26 Maret, dampak di Bali bersifat tidak langsung. Hujan dengan intensitas lebat sempat terjadi di wilayah Bali bagian utara, khususnya di Gerokgak yang tercatat paling deras, sementara wilayah lain mengalami hujan ringan hingga sedang,” ujarnya, Kamis (26/3).
Kondisi di daratan Bali saat ini tidak terlalu dipengaruhi oleh sistem siklon tersebut. Namun, masyarakat tetap perlu mewaspadai kondisi perairan, terutama di wilayah selatan Bali. “Gelombang di perairan selatan Bali diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter. Sementara kondisi angin masih dalam kategori normal,” jelasnya.
Secara umum, wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem meliputi NTB dan NTT. Sementara untuk gelombang tinggi, terjadi di sejumlah perairan seperti selatan Jawa Timur, Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, hingga Samudra Hindia selatan Bali dan sekitarnya.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku aktivitas laut, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi dan cuaca buruk di perairan selatan Indonesia.
Saat ini, posisi Siklon Tropis Narelle terdeteksi berada di selatan NTT dan terus bergerak menjauhi wilayah Indonesia ke arah barat daya. Dalam 24 jam ke depan, sistem ini diperkirakan masih berpotensi menguat, namun dampaknya dipastikan tidak akan meluas hingga Pulau Jawa. (BC5)

















