balibercerita.com –
Desa Adat Pecatu mulai memberi perhatian serius terhadap dampak pesatnya pembangunan pariwisata di wilayah Pecatu. Selain memicu kemacetan lalu lintas, pembangunan yang semakin masif juga dinilai mulai menggerus ruang hijau dan keseimbangan lingkungan kawasan tersebut.
Persoalan itu menjadi sorotan dalam paruman Desa Adat Pecatu yang digelar di Wantilan Desa Adat Pecatu pada Minggu (24/5). Forum yang dihadiri sekitar 900 krama atau 93 persen peserta wajib tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi kondisi wilayah di tengah pertumbuhan pembangunan yang terus meningkat.
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta mengatakan, desa adat tidak menutup mata terhadap dampak perkembangan investasi dan pembangunan di wilayah Pecatu. Menurutnya, kondisi tersebut harus segera diantisipasi agar keseimbangan lingkungan dan kenyamanan masyarakat tetap terjaga.
Salah satu langkah yang akan diprioritaskan desa adat ke depan ialah rehabilitasi lingkungan melalui penghijauan kembali kawasan yang mulai kehilangan ruang terbuka hijau akibat pembangunan. “Fokus kami bagaimana merehabilitasi tanaman-tanaman yang tergeser atau ditebang akibat pembangunan. Tempat-tempat kosong harus dihijaukan kembali supaya paru-paru desa tetap terjaga,” ujarnya.
Ia menilai konsep Tri Hita Karana harus tetap menjadi dasar pembangunan di wilayah Pecatu. Karena itu, desa adat akan mendorong penanaman pohon dan pelestarian kawasan hijau di sejumlah titik yang masih memungkinkan.
Selain lingkungan, masyarakat juga mulai mengeluhkan kemacetan lalu lintas yang semakin sering terjadi di sejumlah ruas jalan wilayah Pecatu. Kondisi tersebut disebut menjadi konsekuensi meningkatnya aktivitas pariwisata dan pembangunan akomodasi di kawasan tersebut.
Menurut Sumerta, persoalan kemacetan tidak bisa dianggap biasa meskipun kondisi ekonomi dan aktivitas wisata saat ini jauh lebih baik dibanding masa pandemi Covid-19. “Kita tidak bisa hanya beralibi sekarang lebih baik dari masa Covid. Tetap harus dicari solusi supaya kenyamanan masyarakat tetap terjaga,” katanya.
Di sisi lain, Desa Adat Pecatu juga mulai memperkuat pengawasan sosial di tengah kondisi masyarakat yang semakin heterogen. Desa adat berencana memperkuat sinergi dengan tata kasukertan melalui pendataan warga maupun penduduk pendatang yang tinggal di wilayah Pecatu.
Pendataan tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh warga memiliki administrasi yang jelas sekaligus menjalankan kewajiban sesuai aturan desa adat. “Kami bukan desa homogen lagi, sekarang sangat heterogen. Karena itu semua harus terdata. Kewajiban mereka harus dilakukan, tetapi hak-hak mereka juga tidak boleh diabaikan, termasuk soal keamanan,” ucapnya.
Dalam paruman tersebut, prajuru desa adat juga menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan, evaluasi program yang telah berjalan, serta sejumlah agenda yang akan menjadi prioritas Desa Adat Pecatu ke depan. (BC5)















