BBTF 2026 Gaet 407 Buyer dari 44 Negara

0
7
BBTF
Aktivitas di BBTF 2026. (ist)

balibercerita.com –
Di tengah persaingan destinasi wisata dunia yang semakin ketat, Bali terus berupaya mempertahankan posisinya sebagai gerbang pariwisata Indonesia di mata internasional. Salah satunya melalui penyelenggaraan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 yang tahun ini tidak hanya menjadi ajang transaksi bisnis pariwisata, tetapi juga panggung untuk menunjukkan bahwa masa depan Bali bertumpu pada budaya, kualitas pengalaman, dan keberlanjutan.

BBTF 2026 berlangsung pada 28–30 Mei 2026 di Bali International Convention Centre (BICC), The Westin Resort Nusa Dua. Memasuki tahun ke-12 penyelenggaraan, event terbesar industri pariwisata Indonesia ini mengusung tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Cultures, and Sustainable Heritage.” Tahun ini, BBTF menghadirkan 407 buyer dari 44 negara serta 286 seller dari empat negara dan 13 provinsi di Indonesia, menjadikannya salah satu pertemuan bisnis pariwisata terbesar di kawasan Asia Pasifik.

Ketua DPD Asita Bali sekaligus Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra mengatakan, BBTF bukan sekadar mempertemukan penjual dan pembeli produk wisata. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat citra Bali dan Indonesia di tengah perubahan tren perjalanan global. “Di tengah perubahan pola perjalanan internasional, Bali harus mampu menjaga identitasnya, memperkuat kepercayaan pasar, dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat serta ekosistem pariwisata,” ujarnya.

Baca Juga:   Semarak Agustusan di Destinasi Candi dan TMII

Menurut Winastra, momentum BBTF tahun ini semakin relevan karena didukung meningkatnya konektivitas penerbangan internasional menuju Bali. Sejumlah maskapai membuka rute baru yang memperluas akses wisatawan dari berbagai negara. Maskapai Jetstar, misalnya, telah meluncurkan layanan langsung Sunshine Coast–Bali dan Melbourne Avalon–Bali. Sementara, Virgin Australia akan membuka penerbangan langsung Canberra–Bali mulai 22 Juni 2026.

Dari kawasan Asia Tenggara, Indonesia AirAsia telah mengoperasikan rute Bali–Da Nang, Vietnam, sedangkan pasar India terus diperkuat melalui layanan Mumbai–Denpasar dan Bengaluru–Bali. Setiap rute baru yang dibuka tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga membawa peluang ekonomi yang lebih luas bagi Bali.

“Setiap rute baru menuju Bali membawa lebih dari sekadar penumpang. Ia membuka akses pasar, mendorong permintaan hotel, belanja di restoran, pergerakan transportasi, peluang ekonomi kreatif, serta eksposur yang lebih luas bagi komunitas dan destinasi di seluruh Bali,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan aksesibilitas harus diimbangi dengan kualitas produk dan pengalaman wisata yang konsisten. Dengan demikian, kunjungan wisatawan tidak hanya menghasilkan angka kedatangan, tetapi juga menciptakan transaksi berkualitas dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal.

Baca Juga:   Mandalika Festival of Speed 2025 Dorong Ekonomi Kreatif dan Ekosistem Motorsport Nasional

BBTF 2026 juga menyoroti gastronomi sebagai salah satu kekuatan utama pariwisata Bali dan Indonesia. Tema yang diangkat tahun ini dinilai sangat relevan karena kuliner menjadi salah satu medium paling efektif untuk memperkenalkan budaya kepada wisatawan dunia.

Melalui makanan, wisatawan dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat, mulai dari petani, nelayan, pasar tradisional, dapur keluarga, hingga tradisi dan upacara yang menjadi bagian dari identitas Bali. “Kuliner adalah cara paling alami bagi Bali untuk berbicara kepada dunia. Di dalamnya ada budaya, komunitas, sejarah, dan kehidupan sehari-hari masyarakat yang menjadi fondasi pariwisata itu sendiri,” katanya.

Namun di balik optimisme tersebut, Winastra mengingatkan bahwa reputasi global Bali tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang akan bertahan dengan sendirinya. Berbagai persoalan seperti kemacetan, kebersihan lingkungan, tata kelola destinasi, hingga pelestarian budaya harus menjadi perhatian bersama.

“Bali adalah budaya yang hidup, rumah, dan tanggung jawab. Menjaga Bali tetap sebagai Bali membutuhkan tata kelola destinasi yang lebih baik, lingkungan yang lebih bersih, perencanaan mobilitas yang lebih kuat, penghormatan terhadap budaya, serta komitmen bersama dari seluruh stakeholder,” tegasnya.

Baca Juga:   Geliat Musim Semi Seni Rupa "Vernal Artistic" di Santrian Art Gallery

Oleh karena itu, pembukaan BBTF 2026 juga diharapkan menjadi momentum diskusi strategis mengenai berbagai tantangan yang dihadapi Bali. Sejumlah pejabat tinggi negara dijadwalkan hadir, termasuk perwakilan pemerintah pusat, kementerian terkait, hingga Pemerintah Provinsi Bali bersama para buyer internasional dan pelaku industri.

Selain agenda business matching, BBTF 2026 juga menghadirkan program familiarization trip dan post-event tour yang memungkinkan para buyer merasakan langsung pengalaman berwisata di berbagai destinasi pilihan. Melalui kunjungan tersebut, para buyer dapat melihat kualitas produk, standar layanan, kesiapan masyarakat lokal, hingga kekayaan budaya yang menjadi daya tarik utama Bali.

Winastra menegaskan, bagi sebagian besar wisatawan mancanegara, Bali merupakan wajah pertama Indonesia yang mereka kenal. Karena itu, setiap pengalaman yang diperoleh wisatawan selama berada di Pulau Dewata akan turut membentuk persepsi dunia terhadap Indonesia. “Pariwisata adalah diplomasi yang bergerak. Setiap kunjungan ke Bali, setiap hidangan, setiap perjumpaan budaya, ikut membentuk cara dunia memahami Bali dan Indonesia,” pungkasnya. (BC5)